Negara Yang Memiliki Penipuan Online Tertinggi
Penipuan online tidak hanya berdampak pada individu, tetapi dapat juga merusak kepercayaan kepada layanan digital, melemahkan stabilitas ekonomi, serta mendorong tindakan lintas negara oleh aparat penegak hukum
Pada beberapa tahun terakhir, jumlah kasus dan total kerugian yang dilaporkan terus meningkat, yang memiliki beragam modu, mulai dari phishing dan manipulasi sosial, hingga investasi kripto palsu, penipuan e-commerce, serta pengalihan rekening pembayaran (invoice redirection)
Untuk Kategori “paling tinggi” dari suatu negara dapat mengukurnya melalui beberapa indikator, banyak laporan korban, besaran kerugian rata-rata per individu, dan peran wilayah tersebut sebagai pusat operasi sindikat penipuan.
Berikut 5 Negara Dengan Kasus Penipuan Online Paling Tinggi Di Dunia
Baca Juga : Waspada Penipuan Online Berkedok Kur BRI! Begini Cara Melaporkannya dengan Benar
1. Amerika Serikat
Amerika Serikat menjadi negara paling menonjol berdasarkan banyaknya laporan ke pusat pengaduan internasional (IC3/FBI) dan total nilai kerugian.
Data tahunan FBI/IC3 mencatat ratusan ribu laporan dari AS setiap tahun, dengan jenis kasus utama meliputi investasi palsu (termasuk kripto), business email compromise (BEC), phishing, dan penipuan dukungan teknis (tech-support scams).
Tidak hanya itu, jumlah laporan yang besar, kerugian per korban di AS juga tinggi karena meluasnya penggunaan layanan finansial digital, tingginya transaksi e-commerce, dan nilai tabungan rata-rata yang besar dibanding banyak negara lain.
Dampaknya meluas, tidak hanya ke individu tetapi juga ke perusahaan dan lembaga pemerintah, sehingga mendorong kerja sama global untuk menindak pelaku.
Menganggap AS sebagai target yang “menjanjikan” bagi pelaku penipuan online karena AS memiliki ekonomi yang besar, dan banyak korban kehilangan tabungan besar akibat investasi palsu yang membuatnya seperti asli dan sangat profesional.
2. Inggris
Inggris juga menjadi posisi atas dalam hal jumlah laporan dan kompleksitas modus penipuan. Data otoritas dan pihak ketiga menunjukkan warga Inggris menjadi sasaran utama phishing, pengalihan pembayaran (invoice fraud) B2B, penipuan asmara (romance scams), dan investasi palsu yang memanfaatkan platform pembayaran cepat serta open banking.
Tingkat adopsi teknologi finansial yang tinggi di Inggris memungkinkan penipu memanfaatkan sistem pembayaran instan dan infrastruktur bank digital untuk memindahkan dana secara cepat — membuat proses pelacakan dan pemulihan dana sulit dilakukan meskipun kasus segera dilaporkan.
Pemerintah dan regulator rutin merilis peringatan serta data statistik akibat lonjakan signifikan dalam berbagai kategori penipuan. Kenaikan laporan dapat berarti peningkatan korban atau membaiknya sistem pelaporan.
3. Nigeria
Jika fokus mengarahkan pada lokasi asal operasi penipuan lintas negara, Sering menyebut Nigeria ebagai pusat kegiatan penipuan online terorganisir. terutama jenis romance scam dan skema advance-fee/419 yang kini berkembang menjadi model baru seperti job scam
Berbagai operasi lintas-negara oleh Interpol dan Afripol menemukan bahwa kelompok kriminal terorganisir dari wilayah Afrika Barat memainkan peran penting dalam jaringan penipuan global, dengan ribuan korban dan kerugian mencapai ratusan juta dolar.
Meskipun banyak operasi berasal dari wilayah tersebut, sebagian besar korban berasal dari negara maju, sehingga dampak kerugian bersifat global.
Sudah Ratusan pelaku penipuan online yang tertangkap melalui operasi terkoordinasi, namun skalanya tetap besar karena pelaku terus beradaptasi dengan teknologi dan memanfaatkan platform komunikasi terenkripsi.
4. India
India menempati posisi tinggi karena dua faktor utama: jumlah pengguna digital yang sangat besar dan pesatnya digitalisasi sektor keuangan yang menciptakan peluang besar bagi penipu lokal maupun asing.
Laporan kepolisian dan media setempat menunjukkan peningkatan tajam kasus investasi palsu, penipuan OTP, panggilan palsu, call center scam, dan e-commerce fraud dengan kerugian miliaran rupee di beberapa wilayah.
Rekayasa sosial melalui WhatsApp, permintaan OTP palsu, hingga aplikasi investasi bodong menyasar berbagai kalangan usia, termasuk lansia.
Pemerintah India terus melakukan kampanye literasi digital dan memperkuat sistem pelaporan, namun skala populasi dan variasi modus membuat angka penipuan online tetap tinggi.
5. China
China sering muncul dalam laporan sebagai negara dengan tingkat tinggi penipuan domestik sekaligus sumber beberapa operasi lintas-negara.
Jika secara global, ada jaringan yang menargetkan korban luar negeri melalui modus penipuan kerja, investasi, hingga pengalihan dana.
Kesulitannya meningkat karena perbedaan regulasi dan keterbatasan akses data lintas negara, sehingga sulit untuk mengukur skala sebenarnya. Namun berbagai lembaga keamanan dan intelijen siber menempatkan Tiongkok dalam daftar utama negara terkait kerugian besar akibat penipuan.
Data dan peringkat negara hanya memberikan gambaran makro mengenai pusat masalah, namun bagi individu pesan utamanya tetap: selalu waspada terhadap manipulasi sosial, jangan pernah membagikan OTP atau data pribadi, verifikasi alamat situs dan identitas penjual, gunakan autentikasi dua faktor, dan segera laporkan setiap indikasi penipuan ke pihak berwenang.
Laporan FBI/IC3 dan studi industri juga menegaskan bahwa pencegahan, edukasi publik, serta kerja sama internasional adalah kunci utama mengurangi kerugian — karena pelaku terus memanfaatkan teknologi baru, sementara korban sering terjebak bukan karena kelemahan teknis, tetapi karena manipulasi kepercayaan (trust engineering).
Kesimpulan
Walau Negara tersebut adalah negara raksasa dunia, tapi kasus penipuan online tetap merajalela. jadi kita tetap harus waspada dan berhati-hati menggunakan teknologi online agar tidak menjadi salah satu korban.

















