7 Jenis Kingdom dalam Klasifikasi Makhluk Hidup, Apa Saja?
Klasifikasi makhluk hidup adalah sistem yang digunakan untuk mengelompokkan berbagai organisme berdasarkan kesamaan fisik dan genetik mereka. Proses ini sangat penting dalam dunia ilmu biologi karena memungkinkan para ilmuwan untuk memetakan hubungan kekerabatan antar spesies.
Salah satu sistem klasifikasi yang paling banyak digunakan adalah sistem lima kingdom yang pertama kali diperkenalkan oleh Robert Whittaker pada tahun 1960-an. Namun, dengan perkembangan teknologi dan penelitian, sistem ini mengalami beberapa modifikasi. Di bawah ini, kita akan membahas tujuh kingdom utama dalam klasifikasi makhluk hidup.
Kingdom Animalia
Kingdom Animalia mencakup semua jenis hewan, dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Hewan dalam kingdom ini adalah organisme eukariotik, multiseluler, dan tidak memiliki dinding sel. Mereka bersifat heterotrof, yang artinya memperoleh makanan dengan mengonsumsi organisme lain. Beragam spesies hewan, mulai dari serangga hingga mamalia, termasuk dalam kingdom ini. Selain itu, hewan dalam Kingdom Animalia dapat ditemukan di berbagai habitat, baik di darat, laut, maupun udara.
Kingdom Plantae
Tumbuhan merupakan bagian dari Kingdom Plantae, yang terdiri dari organisme eukariotik dan multiseluler yang bersifat autotrof. Tumbuhan dapat memproduksi makanan mereka sendiri melalui proses fotosintesis, yang memanfaatkan cahaya matahari. Mereka memiliki klorofil yang terletak di dalam kloroplas untuk menangkap energi matahari. Tumbuhan dalam kingdom ini meliputi berbagai spesies seperti lumut, paku, dan tumbuhan berbunga.
Kingdom Protista
Kingdom Protista mencakup organisme eukariotik yang sebagian besar bersifat uniseluler, meskipun beberapa di antaranya multiseluler. Organisme dalam kingdom ini sangat beragam, termasuk yang mirip dengan hewan, tumbuhan, atau jamur. Contoh protista adalah Amoeba, Paramecium, dan ganggang merah. Protista sering kali ditemukan di perairan atau lingkungan lembap lainnya.
Kingdom Fungi
Kingdom Fungi terdiri dari jamur, ragi, dan kapang, yang semuanya adalah organisme eukariotik dan heterotrof. Tidak seperti tumbuhan, jamur tidak memiliki klorofil dan mendapatkan nutrisinya dengan menyerap bahan organik di sekitarnya. Jamur berperan penting sebagai pengurai dalam ekosistem, membantu proses dekomposisi bahan organik dan mendaur ulang nutrisi.
Kingdom Bacteria
Bakteri termasuk dalam kerajaan Monera yang dahulu mencakup semua organisme prokariotik. Namun, seiring dengan penelitian lebih lanjut, kingdom ini dibagi menjadi dua bagian: Kingdom Bacteria dan Kingdom Archaea. Bakteri adalah organisme uniseluler yang ditemukan hampir di setiap lingkungan, mulai dari tanah, air, hingga tubuh manusia. Beberapa jenis bakteri berperan dalam proses fermentasi dan dekomposisi, sementara yang lainnya dapat menyebabkan penyakit.
Kingdom Archaea
Archaea adalah mikroorganisme uniseluler yang sangat mirip dengan bakteri, tetapi memiliki perbedaan dalam struktur genetik dan biokimia. Mereka biasanya ditemukan di lingkungan ekstrem, seperti sumber air panas atau kedalaman laut. Meskipun sering hidup di kondisi yang keras, Archaea memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa, yang membuatnya penting dalam penelitian bioteknologi.
Kingdom Chromista
Kingdom Chromista mencakup organisme seperti diatom, oomycetes, dan beberapa jenis alga yang memiliki klorofil dalam plastidanya. Organisme ini diperkenalkan oleh Thomas Cavalier-Smith pada tahun 1981. Kingdom ini terutama terdiri dari spesies yang memiliki proses fotosintesis, tetapi berbeda dari tumbuhan dalam hal struktur dan komposisi genetiknya. Alga coklat adalah salah satu contoh yang termasuk dalam kingdom ini.
Kesimpulan
Klasifikasi makhluk hidup terus berkembang seiring dengan penemuan baru dalam ilmu biologi. Sistem yang dulunya hanya mengenal lima kingdom kini telah diperluas dengan penambahan kingdom Chromista dan Archaea. Setiap kingdom memiliki karakteristik unik yang membantu kita memahami keragaman hayati dan hubungan evolusi antar spesies. Dengan sistem klasifikasi yang semakin canggih, para ilmuwan dapat lebih mudah dalam mempelajari makhluk hidup dan peranannya di bumi.

















