
Pengageng Museum Keraton Kasunanan Surakarta, KPH Satriyo Hadinagoro dalam jumpa pers peringatan malam 1 Sura, Selasa (27/9) mengatakan Event budaya Malam 1 Suro dan Nyepi di Bali memiliki banyak kesamaan.
Salah satunya adalah nuansa sakral yang ada di kedua upacara adat itu.
Satriyo berharap, Kegiatan tersebut dapat didukung dengan Car Free Night (CFN) sehingga suasana menjadi lebih hening dan kondusif.
“Harapannya, jalan-jalan antara Keraton Kasunanan Surakarta dengan Pura Mangkunegaran bisa tak ada kendaraan,” kata Kanjeng Satriyo.
Selama ini, malam 1 Suro selalu menjadi tontonan masyarakat dan wisatawan dari luar Solo.
“Ini sebuah upacara adat yang dapat menggerakkan kedatangan masyarakat setiap tahunnya,” lanjutnya.
Adapun kirab malam 1 Suro akan diikuti sekitar tujuh ribu peserta yang berjalan kaki tanpa bicara, pada Minggu (2/10/2016) malam.
Mereka akan mengirab pusaka dan kerbau Kiai Slamet dengan rute sepanjang tujuh kilometer.
Mitos yang dipercaya masyarakat, kotoran kerbau yang dikirab dapat memberi keberkahan bagi yang mengambilnya.
Selain itu, juga digelar salat Khijad di Masjid Paramasana Suronatan.

















