Bahaya Menyepelekan Utang: Rasulullah Enggan Menshalatkan Jenazahnya
Banyak orang menganggap utang hanya sebagai solusi cepat ketika kebutuhan mendesak, misalnya untuk biaya sekolah, modal usaha, atau kebutuhan sehari-hari yang mendapatkannya cukup mudah dengan janji.
Namun, sering kali mereka lupa bahwa utang bukan sekadar janji kosong, melainkan amanah yang harus ditunaikan, bahkan harus disegarakan untuk membayarnya.
Dalam Islam, kewajiban melunasi utang termasuk ibadah yang berat nilainya, karena menyangkut hak orang lain. Menyepelekan utang berarti meremehkan hak orang lain sekaligus tanggung jawab di hadapan Allah SWT.
Rasulullah menegaskan bahwa orang yang meninggalkan utang belum selesai dengan urusan dunia dan akhiratnya. Bahkan beliau menunjukkan ketegasan dengan menolak menshalatkan jenazah orang yang masih memiliki utang.
Hal ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam agar tidak meremehkan kewajiban finansial. Utang yang ditunda akan menjadi beban moral, sosial, dan spiritual yang serius.
Rasulullah Memberi Teladan Tegas Soal Utang
Kisah nyata yang diriwayatkan sahih memperlihatkan Rasulullah menolak menshalatkan jenazah seorang sahabat yang masih memiliki utang dua dinar.
Beliau menanyakan kepada para sahabat apakah ada harta yang ditinggalkan untuk melunasi utangnya. Ketika dijawab tidak, beliau menahan shalat jenazahnya.
Baru setelah seorang sahabat menanggung utang tersebut, Rasulullah mau menshalatkannya. Peristiwa ini menegaskan bahwa Islam memandang utang serius.
Rasulullah tidak menunda memberikan pelajaran moral tentang tanggung jawab. Utang yang tidak dilunasi bukan hanya masalah dunia, tetapi juga menyangkut kehormatan, amanah, dan kesucian hubungan sosial.
Sikap tegas Rasulullah mengingatkan setiap muslim untuk berhati-hati sebelum berutang, selalu beritikad baik, dan melunasi kewajiban sesegera mungkin.
Utang Bisa Menahan Ruh di Alam Kubur
Selain dampak sosial, utang memiliki konsekuensi spiritual. Rasulullah bersabda bahwa ruh seorang mukmin akan tertahan karena utangnya hingga utang itu dilunasi.
Artinya, seseorang tidak akan benar-benar tenang sebelum menyelesaikan tanggung jawab finansialnya. Ini memberi pemahaman bahwa utang bukan sekadar urusan dunia, melainkan juga masalah akhirat.
Rasulullah menekankan bahwa hidup dengan utang yang ditunda akan menimbulkan beban yang berat, bahkan setelah meninggal dunia. Hal ini menjadi motivasi bagi umat Islam agar tidak menunda pelunasan utang, sekecil apapun nilainya.
Menunaikan utang tepat waktu adalah bentuk amanah, akhlak mulia, dan kepatuhan terhadap perintah Allah. Maka ketika kita memiliki utang, hal inilah yang paling utama untuk kita tunaikan.
Hidup Tenang Tanpa Utang, Mati Lapang Tanpa Beban
Islam mendorong umatnya untuk hidup sederhana, tidak boros, dan menjauhi utang yang tidak mendesak. Jika memang harus berutang, niatkan untuk membayar dengan sungguh-sungguh.
Rasulullah bersabda bahwa Allah akan membantu orang yang berutang dengan niat ingin melunasinya. Hal ini menunjukkan bahwa utang bisa menjadi solusi jika dikelola dengan jujur dan penuh tanggung jawab.
Orang yang menunda pelunasan utang akan hidup dengan tekanan psikologis, sulit merencanakan keuangan, dan kehilangan ketenangan batin.
Sebaliknya, menyelesaikan utang akan memberi rasa lega, hidup lebih teratur, dan ibadah lebih khusyuk tanpa beban, maka untuk itu, membayar utang adalah keutamaan yang harus memang disegarakan.
Rasulullah memberi teladan bahwa menunda utang hingga ajal menjemput adalah risiko besar, sehingga umat Islam harus berupaya melunasi kewajiban finansial secepat mungkin.
Kesimpulan
Bahaya menyepelekan utang bukan hanya soal dunia, tetapi juga akhirat. Rasulullah menunjukkan ketegasan dengan menolak menshalatkan jenazah orang yang belum melunasi utang.
Setiap muslim harus menyadari bahwa utang adalah amanah yang wajib dipenuhi, dan menunda pelunasannya bisa menimbulkan konsekuensi serius bagi kehidupan dunia maupun akhirat.
Melunasi utang tepat waktu adalah wujud kesalehan, integritas, dan ketaatan kepada Allah. Dengan demikian, hidup bisa lebih tenang, hubungan sosial lebih harmonis, dan ruh di alam kubur lebih lapang.
















