Beras Langka di Pasaran! Begini Kondisi Stok Terbaru Juli 2025
Memasuki pertengahan Juli 2025, masyarakat di berbagai daerah mulai mengeluhkan kelangkaan beras di pasaran. Di beberapa pasar tradisional maupun ritel modern, rak-rak beras tampak kosong atau hanya tersedia dalam jumlah terbatas. Kalaupun ada, harganya melonjak tajam. Apa yang sebenarnya terjadi?
Stok Nasional Tergerus, Bulog Bergerak
Perum Bulog sebagai penyangga utama cadangan beras pemerintah menyatakan bahwa stok di gudang masih tersedia, namun memang terjadi perlambatan distribusi di sejumlah wilayah. Hal ini disebabkan oleh panen raya yang mundur akibat musim kemarau panjang dan gangguan logistik dari daerah produsen.
Direktur Utama Bulog, Bayu Krisnamurthi, mengungkapkan dalam konferensi pers, “Kami masih memiliki lebih dari 1 juta ton cadangan beras di gudang nasional, tetapi memang ada keterlambatan pengiriman ke wilayah tertentu. Penyaluran bantuan pangan juga sedang kami kebut agar masyarakat bisa terbantu.”
Panen Gagal dan Cuaca Ekstrem Jadi Pemicu
Salah satu penyebab utama kelangkaan ini adalah gagal panen di sentra produksi seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Cuaca ekstrem dan irigasi yang terganggu membuat petani mengalami kerugian, dan banyak lahan padi tidak bisa ditanami tepat waktu.
Akibatnya, pasokan dari petani ke pasar menyusut drastis, sementara permintaan dari masyarakat tetap tinggi. Situasi ini memicu kekosongan stok dan lonjakan harga yang terasa hingga ke tingkat konsumen.
Pembelian Dibatasi, Konsumen Harus Bijak
Beberapa supermarket dan toko sembako mulai membatasi jumlah pembelian beras per orang untuk menghindari panic buying. Konsumen pun diimbau untuk tidak memborong dan membeli sesuai kebutuhan agar distribusi merata.
Pemerintah juga terus menyalurkan bantuan pangan beras 20 kg kepada keluarga penerima manfaat (KPM) melalui program bansos pangan, sebagai upaya menstabilkan pasokan dan menjaga daya beli.
Sabar dan Tetap Waspada
Kelangkaan beras memang nyata, tapi bukan tanpa solusi. Pemerintah sedang mengupayakan percepatan impor, distribusi bantuan, dan menggenjot produksi lokal. Masyarakat diimbau tetap tenang, membeli secukupnya, dan memantau informasi resmi dari Kemendag dan Bulog.
Pantau terus perkembangan ketersediaan beras agar tidak terjebak informasi palsu. Harga boleh naik, tapi solidaritas kita jangan ikut menguap.

















