Cara Memilih Jurnal Terakreditasi dengan Benar untuk Publikasi Skripsi dan Penelitian
Publikasi ilmiah sudah menjadi bagian penting bagi mahasiswa dan peneliti di Indonesia. Banyak kampus mensyaratkan publikasi pada jurnal tertentu sebagai bagian dari kelulusan, terutama untuk mahasiswa tingkat akhir.
Begitu pula para peneliti, dosen, dan akademisi yang mengejar angka kredit membutuhkan publikasi pada jurnal yang berkualitas. Dalam proses itulah, kemampuan memilih jurnal terakreditasi menjadi keterampilan wajib.
Namun, memilih jurnal tidak bisa dilakukan asal-asalan. Jika penulis salah memilih jurnal, risiko penolakan, revisi berulang, atau bahkan salah publikasi pada jurnal predator sangat mungkin terjadi.
Karena itu, penulis perlu memahami cara yang benar dalam memilih jurnal terakreditasi agar publikasi berjalan lancar dan hasil penelitian dapat diakui secara akademik.
Kenali Tingkatan Akreditasi Jurnal
Langkah pertama dalam memilih jurnal adalah memahami tingkatan akreditasi. Di Indonesia, akreditasi jurnal dilakukan oleh Kementerian terkait melalui sistem SINTA (Science and Technology Index).
Akreditasi terbagi dalam enam peringkat, mulai dari SINTA 1 hingga SINTA 6. SINTA 1 dan SINTA 2 berada pada tingkatan tertinggi, setara dengan jurnal bereputasi nasional yang telah terkurasi ketat. Sementara SINTA 3 hingga SINTA 6 berada pada tingkatan menengah hingga dasar.
Mahasiswa dan peneliti perlu mengetahui peringkat jurnal yang dibutuhkan. Jika kampus mensyaratkan publikasi minimal SINTA 4, maka penulis harus memilih jurnal pada peringkat tersebut atau yang lebih tinggi. Memahami tingkatan ini penting agar penulis tidak salah memilih jurnal yang tidak sesuai syarat akademik.
Pastikan Jurnal Masuk dalam Daftar Resmi
Setiap kali memilih jurnal, penulis harus memeriksa langsung pada daftar resmi portal SINTA atau situs lembaga terkait. Dengan mengunjungi daftar tersebut, penulis bisa memastikan apakah jurnal masih aktif, apakah akreditasinya masih berlaku, serta siapa penerbitnya.
Langkah sederhana ini dapat menghindarkan penulis dari jurnal abal-abal atau jurnal yang belum diakui secara resmi. Saat ini, banyak website yang mengaku terakreditasi padahal tidak masuk dalam daftar. Karena itu, konfirmasi langsung melalui daftar resmi menjadi langkah paling aman.
Cocokkan Fokus dan Ruang Lingkup Penelitian
Tidak semua jurnal menerima semua jenis tulisan. Setiap jurnal memiliki fokus dan ruang lingkup tertentu. Ada jurnal yang khusus membahas ekonomi syariah, ada yang fokus pada pendidikan, kesehatan, teknologi, hukum, hingga ilmu sosial.
Agar peluang diterima lebih besar, penulis harus mencocokkan tema penelitian dengan fokus jurnal. Jika seseorang menulis penelitian tentang manajemen risiko pada bank syariah, maka jurnal yang fokusnya pendidikan jelas tidak cocok.
Kesesuaian ruang lingkup menjadi faktor utama yang menentukan apakah naskah akan lolos desk review atau tidak. Banyak penolakan terjadi bukan karena kualitas tulisan yang buruk, tetapi karena topik tidak sesuai dengan visi jurnal.
Periksa Kejelasan Proses Editorial
Jurnal yang terakreditasi biasanya memiliki proses editorial yang jelas dan transparan. Mereka mencantumkan struktur editorial, mekanisme peer review, durasi review, serta pedoman penulisan yang lengkap. Penulis dapat melihat apakah jurnal tersebut memiliki editor dan reviewer yang kredibel.
Jika proses editorial tidak jelas, misalnya jurnal tidak mencantumkan reviewer atau tidak memiliki panduan review, maka penulis perlu berhati-hati. Transparansi editorial merupakan indikator bahwa jurnal dikelola secara profesional.
Cermati Waktu Review dan Publikasi
Setiap jurnal memiliki waktu proses yang berbeda. Ada jurnal yang menghabiskan tiga bulan untuk proses review, tetapi ada juga yang membutuhkan satu tahun hingga artikel benar-benar terbit. Penulis dapat memilih jurnal berdasarkan kebutuhan.
Jika publikasi diperlukan untuk syarat wisuda dalam waktu dekat, maka penulis harus memilih jurnal yang prosesnya relatif cepat. Sebaliknya, jika penulis mengejar kualitas dan tidak terburu waktu, memilih jurnal dengan proses seleksi lebih panjang tidak menjadi masalah.
Memahami estimasi waktu ini membantu penulis mengatur strategi publikasi sejak awal agar tidak terjadi keterlambatan kelulusan atau terhentinya laporan penelitian.
Teliti Biaya dan Kebijakan Publikasi
Beberapa jurnal mengenakan biaya pemrosesan artikel (APC), tetapi banyak pula jurnal yang tidak menarik biaya sama sekali. Penulis harus membaca kebijakan jurnal terkait pembayaran untuk memastikan tidak ada biaya tersembunyi.
Dalam dunia publikasi, kejelasan biaya sangat penting. Jurnal yang profesional selalu menetapkan biaya secara transparan. Jika penulis menemukan jurnal yang menagih biaya tidak wajar atau memberikan janji terbit instan dengan syarat membayar sejumlah uang, lebih baik menghindarinya.
Baca Artikel yang Pernah Dipublikasikan
Cara paling sederhana untuk mengukur kualitas jurnal adalah membaca beberapa artikel yang pernah dipublikasikan. Dari sini, penulis bisa melihat standar penulisan, gaya bahasa, kualitas penelitian, serta jenis metode yang digunakan.
Jika artikel-artikel dalam jurnal tampak disusun secara rapi, berkualitas, dan sesuai standar ilmiah, besar kemungkinan jurnal memiliki proses review yang baik. Sebaliknya, jika artikel tampak diunggah tanpa editing atau kualitasnya tidak seimbang, maka penulis perlu mempertimbangkan ulang.
Kesimpulan
Memilih jurnal terakreditasi membutuhkan ketelitian dan pengetahuan dasar tentang dunia publikasi ilmiah. Penulis harus memahami tingkatan akreditasi, memastikan jurnal terdaftar resmi, mencocokkannya dengan fokus penelitian, serta memperhatikan proses editorialnya.
Penulis juga perlu memeriksa waktu publikasi, biaya, serta membaca contoh artikel yang sudah terbit. Dengan mengikuti langkah-langkah ini, penulis dapat memilih jurnal yang tepat dan meningkatkan peluang artikel diterima.
Publikasi bukan hanya tentang memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga tentang menempatkan karya ilmiah pada wadah yang benar-benar kredibel dan bermanfaat.
















