Hibah DIKTI Diperpanjang sampai 5 Januari, Ini yang Harus Diperhatikan Peneliti
Kabar perpanjangan batas waktu pengajuan Hibah DIKTI hingga 5 Januari menjadi angin segar bagi dosen dan peneliti di berbagai perguruan tinggi. Perpanjangan ini memberikan ruang tambahan bagi peneliti yang sebelumnya terkendala waktu, kelengkapan administrasi, maupun penyesuaian substansi proposal.
Namun, tambahan waktu tersebut tidak otomatis menjamin proposal akan lolos seleksi. Peneliti tetap perlu mencermati sejumlah aspek krusial agar usulan riset memiliki peluang lebih besar untuk didanai.
Hibah DIKTI selama ini dikenal sebagai salah satu skema pendanaan penelitian paling kompetitif di Indonesia. Setiap tahun, ribuan proposal masuk dengan kualitas yang semakin baik. Oleh karena itu, masa perpanjangan harus dimanfaatkan secara strategis, bukan sekadar untuk menunda pengumpulan berkas.
Memastikan Skema Hibah Sesuai dengan Kualifikasi
Langkah pertama yang perlu peneliti lakukan adalah memastikan skema hibah yang dipilih benar-benar sesuai dengan kualifikasi dan rekam jejak penelitian. DIKTI menyediakan berbagai skema, mulai dari penelitian dasar, terapan, pengembangan, hingga penelitian kolaboratif.
Banyak proposal gugur bukan karena ide penelitian lemah, tetapi karena tidak selaras dengan tujuan dan luaran skema hibah. Peneliti perlu membaca panduan secara menyeluruh, memahami target luaran, serta menyesuaikan metode dan capaian riset dengan ketentuan yang berlaku.
Memperkuat Latar Belakang dan Kebaruan Penelitian
Dalam seleksi hibah, reviewer menaruh perhatian besar pada urgensi dan kebaruan penelitian. Oleh karena itu, peneliti harus memanfaatkan waktu tambahan untuk memperbaiki latar belakang masalah. Paparkan persoalan secara tajam, berbasis data, dan relevan dengan isu terkini.
Kebaruan atau novelty tidak selalu berarti topik yang sepenuhnya baru, tetapi dapat berupa pendekatan, metode, atau konteks penelitian yang berbeda. Peneliti perlu menegaskan posisi risetnya dibandingkan penelitian sebelumnya agar reviewer melihat nilai tambah yang jelas.
Menyelaraskan Tujuan, Metode, dan Luaran
Salah satu kesalahan umum dalam proposal hibah adalah ketidaksinkronan antara tujuan penelitian, metode yang digunakan, dan luaran yang dijanjikan. Perpanjangan waktu hingga 5 Januari seharusnya dimanfaatkan untuk memastikan seluruh bagian proposal saling terhubung secara logis.
Jika tujuan penelitian bersifat eksploratif, metode yang dipilih harus mendukung eksplorasi tersebut. Begitu pula dengan luaran, baik berupa artikel ilmiah, prototipe, kebijakan, maupun HKI, harus realistis dan sesuai dengan skema hibah yang diambil.
Memeriksa Rencana Anggaran Secara Rasional
Anggaran menjadi salah satu aspek sensitif dalam penilaian hibah. Reviewer akan menilai kewajaran biaya, relevansi pengeluaran, serta konsistensi antara anggaran dan aktivitas penelitian.
Peneliti perlu memastikan setiap pos anggaran memiliki justifikasi yang kuat. Hindari pengajuan biaya yang terkesan dipaksakan atau tidak berkaitan langsung dengan kegiatan penelitian. Anggaran yang rapi dan rasional mencerminkan kesiapan peneliti dalam menjalankan riset secara profesional.
Memastikan Kelengkapan Administrasi
Selain substansi ilmiah, aspek administratif sering kali menjadi penghambat lolosnya proposal. Dokumen seperti biodata peneliti, surat pernyataan, hingga kesesuaian format unggahan harus diperiksa dengan teliti.
Perpanjangan waktu ini sebaiknya digunakan untuk melakukan pengecekan ulang seluruh dokumen pendukung. Kesalahan kecil seperti format yang tidak sesuai atau dokumen yang belum ditandatangani dapat berdampak fatal pada proses seleksi.
Mengoptimalkan Peran Tim Peneliti
Bagi proposal yang melibatkan tim, koordinasi menjadi kunci keberhasilan. Peneliti utama perlu memastikan setiap anggota tim memahami perannya masing-masing. Kontribusi anggota tim harus tercermin jelas dalam proposal, baik dalam metodologi maupun luaran.
Reviewer umumnya akan menilai kekuatan tim berdasarkan keahlian, pengalaman, dan relevansi bidang ilmu. Tim yang solid dan saling melengkapi akan meningkatkan kepercayaan reviewer terhadap kelayakan penelitian.
Memanfaatkan Waktu untuk Review Internal
Salah satu strategi yang sering diabaikan adalah melakukan review internal sebelum proposal dikirimkan. Peneliti dapat meminta rekan sejawat untuk membaca dan memberikan masukan kritis terhadap proposal.
Masukan dari pihak lain sering kali membantu menemukan kelemahan yang tidak disadari penulis. Dengan waktu tambahan hingga 5 Januari, peneliti memiliki kesempatan lebih luas untuk melakukan perbaikan berdasarkan hasil evaluasi internal tersebut.
Memperhatikan Jadwal dan Sistem Pengunggahan
Meskipun batas waktu diperpanjang, peneliti tetap disarankan tidak menunggu hingga hari terakhir untuk mengunggah proposal. Sistem daring sering mengalami kepadatan menjelang penutupan, yang berpotensi menimbulkan kendala teknis.
Mengunggah proposal lebih awal memberikan ruang untuk mengatasi masalah teknis jika terjadi gangguan pada sistem. Selain itu, peneliti masih memiliki waktu untuk melakukan perbaikan jika sistem mendeteksi kesalahan unggahan.
Kesimpulan
Perpanjangan Hibah DIKTI hingga 5 Januari merupakan kesempatan berharga bagi peneliti untuk menyempurnakan proposal. Namun, waktu tambahan ini hanya akan berdampak positif jika dimanfaatkan secara efektif dan terencana.
Dengan memastikan kesesuaian skema, memperkuat kebaruan penelitian, menyelaraskan metode dan luaran, serta menyiapkan administrasi secara cermat, peneliti dapat meningkatkan peluang lolos pendanaan.
Hibah DIKTI bukan sekadar soal mendapatkan dana, tetapi juga tentang membangun budaya riset yang berkualitas, akuntabel, dan berdampak bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat luas.

















