Ini Dia Beras Oplosan Penyebab Beras Langka di Pasaran
Isu beras oplosan kini jadi sorotan nasional karena selain merugikan konsumen, praktik tersebut juga menjadi salah satu penyebab beras langka di pasaran modern dan tradisional.
Praktik oplosan ini membuat banyak merek premium ditarik dari rak ritel, mengakibatkan pasokan beras premium dan bahkan SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) semakin langka di pasar.
Praktik Oplosan dan Distribusi tertunda
Kementerian Pertanian dan Satgas Pangan Polri menemukan bahwa sejauh ini 212 merek beras kemasan diduga melakukan pengoplosan atau manipulasi mutu dan bobot, dengan sekitar 85 % merek premium tidak memenuhi standar mutu, berat, maupun HET. Risiko kerugian konsumen diperkirakan mencapai Rp 99–99,3 triliun per tahun.
Akibat temuan ini, asosiasi ritel seperti Aprindo memutuskan menarik semua beras premium yang dicurigai dari gerai, termasuk merek Alfamart, Sania, Setra Ramos, dan lainnya. Karena pasokan premium seret, risiko langka menjadi nyata di banyak toko.
Penarikan Merek oleh Pelaku Ritel Mengurangi Pasokan
Saat Aprindo menurunkan atau menyingkirkan merek premium oplosan dari display, pasokan premium di ritel modern berkurang drastis, dengan tingkat ketersediaan hanya 50–60 %.
Kondisi ini membuat konsumen sulit mendapatkan beras premium, sehingga mencari ke sumber alternatif yang mungkin kualitasnya tidak terjamin.
SPHP Mulai Langka Setelah Isu Oplosan
Di tengah isu ini, distribusi program pemerintah SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) juga terdampak. Di beberapa kota, SPHP yang dulu relatif mudah ditemukan kini mulai sulit dicari oleh masyarakat karena permintaan tinggi dan stok cepat habis.
Distribusi dan Harga Tidak Ideal
Pengoplosan sering muncul bukan hanya karena niat buruk, tetapi lebih pada tekanan harga dan kelangkaan pasokan gabah.
Pabrik penggilingan menerima gabah dari berbagai daerah dan jenis, sehingga hasilnya tidak selalu homogen, meski tidak disengaja, ini memicu tuduhan oplosan dan menurunkan kepercayaan pasar.
Distribusi cadangan pemerintah yang terlambat dan belum maksimal juga menghambat ketersediaan beras, terutama ketika panic buying dan penimbunan dilakukan pedagang atau konsumen.
Implikasi terhadap Harga dan Kepercayaan Publik
Pemberantasan mafia pangan menjadi penting agar stabilitas harga bisa dijaga. Pemerintah telah mengumumkan rencana menghapus klasifikasi beras medium/premium, hanya menyisakan beras biasa dan beras khusus (seperti Basmati, Japonica) dengan sertifikasi resmi.
Bulog telah digerakkan untuk mempercepat distribusi SPHP, sebesar 1,3 juta ton dari Juli hingga Desember 2025 dengan harga tetap Rp 12.500/kg agar pasokan bisa mencukupi dan harga tak melambung.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, beras oplosan menjadi salah satu penyebab utama kelangkaan beras premium dan SPHP di pasaran.
Kombinasi faktor mulai dari praktik penipuan mutu, distribusi tertunda, tekanan harga dari produsen dan peritel, hingga kebingungan regulasi yang membuat ketersediaan beras yang memenuhi HET semakin terbatas.
Pemerintah perlu memperkuat pengawasan tata niaga, mempercepat distribusi cadangan, serta memberi efek jera hukum agar pasokan beras kembali stabil dan konsumen terlindungi.

















