Jejak Sejarah Guru Patimpus, Pendiri Kota Medan yang Disegani
Di balik kemegahan dan keramaian Kota Medan, tersimpan kisah luar biasa tentang seorang tokoh visioner: Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Ia bukan hanya pendiri, tetapi juga arsitek sosial yang membentuk fondasi keberagaman dan semangat pembangunan kota ini. Selain itu, memahami sejarah Guru Patimpus sangat penting untuk mengapresiasi identitas dan dinamika Medan yang terus hidup hingga hari ini1.
Mengenal Sosok Guru Patimpus
Guru Patimpus lahir sekitar tahun 1540 di Aji Jahe, Tanah Karo. Ia berasal dari marga Sembiring Pelawi, salah satu marga penting suku Karo. Sebelum memeluk Islam, Guru Patimpus menganut kepercayaan Pemena, yang merupakan keyakinan asli masyarakat Karo. Namun, perjalanan hidupnya penuh transformasi—dari seorang tabib dan ahli ilmu kebatinan hingga menjadi pemimpin yang berwibawa dan disegani
Perjalanan spiritual Guru Patimpus membawanya menimba ilmu ke Datuk Kota Bangun, seorang ulama besar di wilayah hilir. Setelah memeluk Islam, ia menikah dengan putri dari Pulau Brayan, keturunan Panglima Deli bermarga Tarigan. Pernikahan ini menjadi simbol penyatuan budaya Karo dan Melayu-Deli, serta memperkuat integrasi budaya dan agama di kawasan yang kelak menjadi Medan
Detik-Detik Pendirian Kota Medan
Lokasi Strategis dan Tantangan Alam
Pada 1 Juli 1590, Guru Patimpus membuka lahan di antara Sungai Deli dan Sungai Babura. Lokasi ini sangat strategis karena menjadi jalur perdagangan penting pada masa itu. Di sisi lain, tantangan membuka lahan rawa dan menghadapi binatang buas tidak menyurutkan tekadnya. Ia justru melihat potensi ekonomi besar di persimpangan sungai tersebut, yang kemudian menjadi cikal bakal Kampung Medan Putri—awal mula Kota Medan modern.
Penetapan Hari Jadi Kota Medan
Nama “Medan” berasal dari kata Karo “madan” yang berarti “sembuh” atau “menjadi sehat”, sangat relevan dengan profesi Guru Patimpus sebagai tabib. Tanggal 1 Juli 1590 kini diperingati sebagai Hari Jadi Kota Medan, menggantikan tanggal 1 April 1909 yang sebelumnya dipakai berdasarkan administrasi kolonial Belanda. Penetapan ini merupakan hasil penelitian sejarah yang menegaskan pentingnya akar lokal dan peran Guru Patimpus dalam sejarah Medan.
Warisan Abadi Guru Patimpus
Guru Patimpus bukan hanya pendiri fisik kota, tetapi juga pelopor integrasi budaya dan transformasi sosial. Ia membangun jembatan ekonomi dan sosial antara komunitas Karo dan Melayu, menciptakan fondasi multikultural yang menjadi ciri khas Medan hingga kini. Oleh karena itu, peran Guru Patimpus sangat besar dalam membentuk identitas dan dinamika sosial kota ini.
Monumen dan Penghormatan Guru Patimpus
Warisan Guru Patimpus diabadikan melalui beberapa situs penting:
- Monumen Guru Patimpus di Bundaran Petisah, Jalan Guru Patimpus, menjadi ikon penghormatan bagi pendiri kota.
- Jalan Guru Patimpus sebagai salah satu jalan utama di Medan.
- Makam Guru Patimpus yang ditemukan pada 2010 di Desa Lama, Hamparan Perak, Deli Serdang, kini menjadi situs sejarah yang penting.
Namun, masih ada tantangan dalam pelestarian fisik situs-situs ini, sehingga dibutuhkan perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat
















