Kenapa Inflasi Sumut Terus Memuncak? Ini Penyebab dan Solusi dari Pemprov
Sampai bulan September 2025, tingkat inflasi di Sumatra Utara (Sumut) menjadi yang tertinggi di seluruh Indonesia dengan inflasi tahunan sebesar 5,32 persen.
Kenaikan harga ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terkait dengan komoditas pangan serta masalah distribusi yang belum berjalan dengan baik.
Penyebab Inflasi Sumut Terus Memuncak
Salah satu faktor utama yang menyebabkan inflasi melonjak di Sumut adalah harga cabai merah yang meningkat tajam. Cuaca yang ekstrem mengakibatkan gagal panen, sehingga pasokan cabai menjadi kurang dan menyebabkan lonjakan harga yang signifikan.
Selain itu, infrastruktur yang belum memadai membuat distribusi bahan pokok dari pusat produksi ke wilayah konsumen terhambat. Ketidakseimbangan antara pasokan yang terbatas dan tingginya permintaan masyarakat mengakibatkan kenaikan harga di pasaran.
Di sisi lain, Pemprov Sumut juga dinilai kurang sigap dalam menghadapi lonjakan harga pangan yang cepat. Minimnya langkah mitigasi dan terbatasnya pengendalian distribusi semakin memperburuk keadaan inflasi.
Solusi dari Pemerintah Provinsi Sumut Mengatasi Inflasi yang memuncak
Untuk mengatasi permasalahan inflasi tersebut, Pemprov Sumut telah menyusun dan melaksanakan 11 langkah cepat yang dikoordinasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Beberapa solusi yang dilakukan antara lain:
- Menghadirkan dan mendistribusikan komoditas seperti cabai merah secara gratis bagi masyarakat kurang mampu.
- Memberikan subsidi pada harga agar kebutuhan pokok seperti cabai dan beras dapat dijangkau oleh masyarakat.
- Melakukan pengemasan kolaboratif antara beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) bersama cabai merah agar harga tetap bisa dikendalikan.
- Mengadakan pasar murah di 524 lokasi di seluruh provinsi.
- Mempercepat realisasi program bantuan pangan guna memastikan ketersediaan pasokan.
- Melakukan intervensi di pasar dan rantai distribusi untuk memutuskan aliran pasokan yang tidak efisien.
- Melaksanakan inspeksi mendadak ke pasar dan distributor untuk memantau harga serta stok yang ada.
- Menjamin kelancaran distribusi bahan pokok dari produsen langsung ke konsumen.
- Mengintensifkan kerjasama dengan daerah penghasil komoditas di luar Sumut seperti Jawa untuk membawa pasokan.
- Mengikutsertakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam pengelolaan komoditas utama agar pasokan lebih terjaga.
- Membangun toko pemantau inflasi yang memonitor harga kebutuhan pokok secara real-time.
Inflasi Sumut yang mencapai 5,32 persen disebabkan oleh kenaikan harga bahan pangan seperti cabai merah serta adanya masalah dalam distribusi dan pasokan.
Namun, Pemprov Sumut telah merespons dengan berbagai langkah cepat dan strategis, mulai dari pendistribusian komoditas gratis, pasar murah, intervensi perdagangan, hingga pengawasan distribusi yang ketat.














