Ketahui Berbagai Jenis Majas dalam Bahasa Indonesia dan Contoh Penggunaannya
Penggunaan majas menjadi bagian penting dalam bahasa Indonesia karena dapat membuat kalimat lebih hidup dan memiliki makna yang lebih kuat. Majas sering muncul dalam karya tulis, percakapan, hingga pidato untuk memberi penekanan tertentu pada sebuah pesan. Dengan mengenali berbagai jenis majas, Anda bisa memahami maksud sebuah kalimat dengan lebih mudah. Selain itu, Anda juga bisa menggunakannya untuk membuat tulisan terasa lebih menarik dan jelas.
Berikut beberapa jenis majas yang sering digunakan beserta contoh penggunaanya agar lebih mudah dipahami.
Metafora
Majas metafora membandingkan dua hal secara langsung tanpa memakai kata pembanding. Majas ini muncul ketika penulis ingin memperjelas sifat atau keadaan suatu objek dengan cara menggantinya menggunakan istilah lain.
Contoh: “Ia menjadi cahaya dalam keluarganya.”Pleonasme
Pleonasme muncul ketika ada kata yang sebenarnya tidak perlu, tetapi tetap digunakan. Majas ini sering dipakai untuk menegaskan maksud kalimat agar pembaca lebih memahami pesannya.
Contoh: “Kami turun ke bawah.”Ironi
Ironi digunakan untuk menyampaikan kata yang berlawanan dengan kenyataan. Biasanya, majas ini tampak seperti pujian tetapi sebenarnya menyindir.
Contoh: “Kerjamu rapi sekali, sampai kertasnya penuh coretan.”Personifikasi
Majas personifikasi memberikan sifat manusia kepada benda atau unsur alam. Penggunaan majas ini membuat gambaran dalam kalimat terasa lebih hidup.
Contoh: “Pohon itu menari saat angin bertiup.”Antitesis
Antitesis memadukan dua kata yang berlawanan dalam satu kalimat. Tujuannya untuk menegaskan perbedaan yang ingin disampaikan oleh penulis.
Contoh: “Dia memiliki banyak teman, tetapi sering merasa sendiri.”Repetisi
Repetisi adalah majas yang mengulang kata atau frasa tertentu. Penggunaan pengulangan ini dilakukan untuk memberi penekanan pada pesan utama.
Contoh: “Aku ingin kamu mengerti, mengerti, dan benar-benar mengerti.”Sinisme
Majas sinisme menyampaikan sindiran dengan nada yang lebih tegas dan cenderung merendahkan. Meski begitu, majas ini tetap digunakan untuk mengekspresikan rasa kecewa.
Contoh: “Kamu memang hebat, selalu membuat semua rencana kacau.”Simile
Simile membandingkan dua hal dengan kata seperti, bagaikan, atau laksana. Majas ini banyak digunakan karena mudah dipahami.
Contoh: “Ia bergerak cepat seperti angin.”Klimaks
Klimaks menyusun kata dari tingkatan biasa ke tingkatan yang lebih tinggi. Majas ini membantu pembaca memahami urutan peningkatan suatu keadaan.
Contoh: “Ia belajar, berusaha, lalu akhirnya berhasil.”Metonimia
Metonimia menggunakan nama lain yang terkait dengan sesuatu yang dimaksud. Biasanya berupa merek atau bagian dari suatu benda.
Contoh: “Ayah membeli Aqua di warung.” (yang dimaksud adalah air mineral)Paradoks
Paradoks terlihat bertentangan, tetapi sebenarnya memiliki makna yang logis. Majas ini muncul untuk menunjukkan realitas yang tidak selalu sama dengan penampilan luar.
Contoh: “Ia dikelilingi banyak orang, tetapi tetap merasa sendirian.”Sarkasme
Sarkasme adalah majas yang menyampaikan sindiran kasar. Majas ini dipakai untuk menunjukkan ketidaksukaan secara langsung.
Contoh: “Kamu benar-benar luar biasa, selalu membuat masalah.”Oksimoron
Oksimoron menggabungkan dua istilah yang saling bertentangan dalam satu frasa. Penggunaan majas ini bertujuan menegaskan kondisi yang rumit atau tidak biasa.
Contoh: “Kebahagiaan yang menyakitkan.”
















