KIP Kuliah Jadi Penopang, Semangat Windi Jadi Inspirasi
KIP Kuliah Jadi Penopang, Semangat Windi Jadi Inspirasi. Tangan Windi Syalwa Mutmainna, yang berusia 20 tahun, dengan cekatan mengipasi api sambil sesekali mengoleskan mentega pada jagung yang akan dibakar. Meskipun merasa lelah setelah kuliah di siang hari, namun impian yang dimilikinya membuatnya terus berjuang.
“Saya bercita-cita untuk menjadi hakim atau jaksa. Ini bukan hanya sekadar untuk mencari jabatan, tetapi karena saya memahami betul bagaimana rasanya mengalami ketidakadilan dan keterbatasan. Saya juga ingin berperan dalam memberantas korupsi,” ucap Windi pada Selasa, 21 Oktober 2025.
Sekarang, dia sedang menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Pattimura di Maluku. Pagi hari, ia mengikuti mata kuliah hukum pidana dan perdata, dan saat malam tiba, ia beralih menjadi penjual jagung bakar.
Windi yang lahir di Ambon, beserta kedua orang tuanya, telah tinggal di dua kamar kos sejak saat SMP. Sebelumnya, mereka tinggal di tanah milik orang lain, tetapi harus pindah karena pemilik tanah tersebut kembali.
Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu, dengan ayah yang bekerja sebagai nelayan. Windi selalu khawatir tidak bisa mendapatkan pendidikan tinggi.
“Saya memang merasa cemas untuk melanjutkan pendidikan karena orang tua saya sudah tua. Ayah dulu berprofesi sebagai nelayan, namun sekarang sudah berusia 60 tahun, jadi tidak memungkinkan lagi. Cuaca juga tidak menentu. Akhirnya kami memutuskan untuk berjualan kecil-kecilan, karena risiko menjadi nelayan cukup besar,” kata Windi.
Program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-Kuliah) memberinya kesempatan untuk melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi. Selama kuliah, Windi harus menghadapi berbagai kesulitan, terutama yang berasal dari dalam dirinya sendiri.
Ia sering kali memikirkan masa depannya. Namun, Windi bertekad untuk menyelesaikan pendidikannya dan memperbaiki kehidupan keluarganya.
Dengan semangat yang diwarisi dari Kapiten Pattimura, Windi berusaha meninggalkan keterbatasan dalam pendidikan. Program KIP-Kuliah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menjadi jembatan baginya untuk meraih cita-cita. Dia bisa menempuh pendidikan tinggi meskipun dengan kendala ekonomi.
Windi memulai aktivitas malamnya segera setelah kuliah selesai. Dengan modal yang sederhana dan semangat yang tak terbatas, ia mendirikan lapak jualan di sudut jalan yang ramai.
Uang yang didapat dari berjualan tidak hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari selama kuliah, tetapi juga untuk membantu keluarganya.
“Jam 8 pagi ada perkuliahan online. Dari jam 11 hingga jam 2 siang itu waktu kosong yang biasanya saya gunakan untuk mempersiapkan penjualan jagung bakar, seperti menyiapkan bumbu dan bahan untuk jasuke (jagung susu keju). Perkuliahan offline dimulai jam 4 dan biasanya berakhir sekitar setengah 6 atau setengah 7. Setelah pulang, saya langsung membantu jualan tanpa mengganti baju,” jelas Windi.
Dia sering berjualan hingga larut malam. Di antara waktu melayani pembeli, ia memanfaatkan kesempatan untuk membaca buku atau mencatat hal-hal penting dari kuliah. Aktivitas ini menjadi rutinitasnya setiap malam, dan paginya ia kembali ke kuliah.
“Saya biasanya jualan hingga jam 12 malam, kadang jika ramai bisa sampai jam 1, setelah itu merapikan peralatan jualan. Jika tidak ada pembeli, saya gunakan waktu itu untuk belajar,” tambahnya.
Ada kalanya ia merasa malu. Saat teman-teman kuliahnya bercerita tentang kafe atau bioskop, Windi justru sibuk menyiapkan arang dan bumbu. Pernah, seorang teman kuliah melewati tempatnya dan mengenalinya.
“Rasanya seperti ingin lari dan bersembunyi. Namun, saya kemudian menyadari bahwa rasa malu tidak akan membayar biaya kuliah saya atau mewujudkan mimpi saya,” kenangnya.
Kehadiran KIP-Kuliah memberikan motivasi besar. Beasiswa ini menghapuskan biaya kuliah bagi Windi, tetapi ia tetap harus menangani biaya hidup dan kebutuhan praktikum secara mandiri.
Windi tidak pernah mengeluh tentang kesulitan berdagang sambil kuliah. Ia selalu ingat usaha keras orang tuanya dalam mengasuhnya, dan merasa perlu membalasnya dengan prestasi yang dapat membangkitkan kebahagiaan bagi mereka.
“Yang selalu ada dalam pikiran saya adalah bagaimana menyelesaikan pendidikan demi membuat orang tua saya bangga akan segala yang telah mereka berikan. Saya ingin mengembalikan apa yang mereka korbankan untuk saya, serta menunjukkan bahwa anak mereka mampu seperti orang lain di luar sana,” kata Windi dengan tegas.
Kelelahan yang dirasakan Windi sirna saat ia memikirkan orang tuanya. Mereka adalah sumber motivasi terbesarnya.
“Kami sering menghadapi hinaan dan cemoohan, saya melihat bagaimana mereka berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan saya, dan saya ingin menghadirkan kebanggaan serta meningkatkan nilai mereka di mata orang lain,” ujarnya.
Windi menyampaikan rasa terima kasih yang dalam kepada orang tuanya, “Mama dan Papa tidak perlu khawatir. Insyaallah Windi akan menyelesaikan kuliah. Windi akan membuat Mama dan Papa bangga serta membuktikan kepada orang-orang yang meremehkan kita bahwa kita juga bisa. ”
Ia juga memberikan pesan kepada teman-teman seusianya agar tidak takut memiliki impian besar, karena pemerintah telah menyediakan banyak beasiswa untuk melanjutkan pendidikan.
“Teman-teman sebaiknya mencari informasi sebab ada banyak beasiswa yang bisa kalian dapatkan. Jangan pernah menyerah dalam mengejar cita-cita,” ujar Windi dengan penuh semangat.
Sumber : https://www.medcom.id/pendidikan/inspirasi-pendidikan/5b2wgg6k-pagi-kuliah-malam-jualan-jagung-kisah-windi-mengejar-cita-cita-dengan-kip-kuliah

















