Mahasiswa Wajib Tahu! Cara Menentukan Permasalahan Kuat dalam PKM-RSH
Menentukan permasalahan penelitian menjadi tahap paling krusial dalam penyusunan proposal PKM-RSH. Banyak proposal gugur bukan karena ide kurang menarik, tetapi karena masalah yang diangkat tidak jelas, terlalu umum, atau sulit dibuktikan secara ilmiah.
Padahal, permasalahan yang kuat akan menjadi fondasi bagi keseluruhan penelitian, mulai dari tujuan, metode, hingga hasil yang diharapkan.
PKM-RSH atau Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora menuntut mahasiswa mampu membaca fenomena sosial secara tajam dan mengemasnya menjadi persoalan riset yang relevan.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami cara menentukan masalah yang tepat agar proposal PKM-RSH memiliki daya saing di mata reviewer.
Memahami Karakteristik PKM-RSH
Sebelum menentukan permasalahan, mahasiswa harus memahami karakter PKM-RSH itu sendiri. PKM-RSH berfokus pada kajian sosial dan humaniora, seperti pendidikan, ekonomi, budaya, hukum, komunikasi, dan kebijakan publik.
Masalah yang diangkat harus bersumber dari fenomena sosial nyata, bukan sekadar asumsi atau opini pribadi. Masalah dalam PKM-RSH juga harus memiliki nilai kebaruan. Artinya, topik tersebut belum banyak diteliti atau memiliki sudut pandang baru yang relevan dengan kondisi terkini.
Dengan memahami karakter PKM-RSH, mahasiswa dapat menghindari kesalahan umum seperti mengangkat topik yang terlalu teknis atau tidak sesuai dengan rumpun sosial humaniora.
Mengamati Fenomena Nyata di Lingkungan Sekitar
Langkah awal menentukan permasalahan yang kuat adalah mengamati lingkungan sekitar. Fenomena sosial sering kali muncul dari hal-hal sederhana, seperti kebiasaan masyarakat, kebijakan lokal, atau perubahan perilaku akibat perkembangan teknologi.
Mahasiswa dapat memulai dari pengalaman sehari-hari yang kemudian dianalisis secara lebih mendalam. Pengamatan tidak boleh berhenti pada gejala permukaan. Mahasiswa perlu bertanya mengapa fenomena tersebut terjadi, siapa yang terdampak, dan apa akibat jangka panjangnya.
Dari proses ini, akan muncul celah masalah yang layak diteliti. Semakin dekat masalah dengan realitas sosial, semakin besar peluang proposal PKM-RSH dinilai relevan.
Mengidentifikasi Kesenjangan antara Harapan dan Kenyataan
Permasalahan penelitian yang kuat biasanya muncul dari adanya kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi nyata. Misalnya, kebijakan pendidikan bertujuan meningkatkan kualitas belajar, tetapi di lapangan justru memunculkan ketimpangan. Kesenjangan inilah yang dapat dijadikan dasar perumusan masalah.
Mahasiswa perlu menggali data awal, baik dari laporan resmi, hasil penelitian terdahulu, maupun berita terpercaya.
Data tersebut membantu memperkuat argumen bahwa masalah yang diangkat memang nyata dan perlu dikaji. Reviewer PKM-RSH cenderung lebih tertarik pada proposal yang mampu menunjukkan urgensi masalah secara objektif.
Merumuskan Masalah secara Spesifik dan Terukur
Kesalahan yang sering terjadi dalam proposal PKM-RSH adalah perumusan masalah yang terlalu luas. Masalah yang umum akan menyulitkan mahasiswa dalam menentukan fokus penelitian dan metode yang tepat. Oleh karena itu, masalah harus dirumuskan secara spesifik, jelas, dan dapat diteliti dalam waktu yang tersedia.
Mahasiswa perlu membatasi ruang lingkup masalah berdasarkan lokasi, subjek, dan waktu penelitian. Dengan perumusan yang spesifik, tujuan penelitian menjadi lebih terarah dan hasil yang diperoleh dapat memberikan kontribusi nyata. Reviewer akan lebih mudah menilai kelayakan proposal jika masalah dirumuskan secara terukur.
Mengaitkan Masalah dengan Teori dan Penelitian Sebelumnya
Permasalahan yang kuat tidak berdiri sendiri. Mahasiswa perlu mengaitkan masalah yang dipilih dengan teori atau konsep yang relevan. Kajian teori membantu menjelaskan posisi penelitian dalam konteks keilmuan yang lebih luas.
Selain itu, tinjauan terhadap penelitian sebelumnya sangat penting untuk menunjukkan kebaruan riset. Mahasiswa dapat menjelaskan apa yang sudah diteliti oleh peneliti lain dan bagian mana yang belum banyak dikaji.
Dengan demikian, masalah yang diajukan tidak terkesan mengulang penelitian lama, tetapi menawarkan sudut pandang baru.
Menilai Kelayakan Masalah dari Segi Metode dan Waktu
Masalah yang menarik belum tentu layak diteliti dalam skema PKM-RSH. Mahasiswa harus mempertimbangkan ketersediaan data, akses ke lokasi penelitian, serta kemampuan tim dalam mengumpulkan dan menganalisis data. Masalah yang terlalu kompleks berisiko tidak selesai tepat waktu.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu menyesuaikan masalah dengan kapasitas tim dan durasi penelitian. Masalah yang sederhana tetapi dianalisis secara mendalam justru sering mendapat penilaian lebih baik dibandingkan masalah besar yang dibahas secara dangkal.
Kesimpulan
Menentukan permasalahan yang kuat dalam PKM-RSH membutuhkan ketajaman analisis dan pemahaman yang baik terhadap fenomena sosial.
Mahasiswa perlu mengamati realitas sekitar, mengidentifikasi kesenjangan, merumuskan masalah secara spesifik, serta mengaitkannya dengan teori dan penelitian sebelumnya. Dengan permasalahan yang jelas dan relevan, proposal PKM-RSH akan memiliki fondasi yang kokoh dan peluang lebih besar untuk lolos pendanaan.
Permasalahan yang baik bukan hanya menarik di atas kertas, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi pengembangan ilmu dan masyarakat.
















