Menjaga Lisan: Kunci Akhlak Mulia yang Sering Terlupakan
Dalam ajaran Islam, lisan menempati posisi yang sangat penting karena dari lisanlah kebaikan atau keburukan bisa bermula.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa menjaga lisan bukan sekadar adab, tetapi bagian dari keimanan yang sejati.
Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat berhati-hati dalam berbicara.
Beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti, bahkan ketika berhadapan dengan musuh sekalipun.
Ucapannya selalu mengandung hikmah, kelembutan, dan ketenangan.
Dari sini, umat Islam belajar bahwa kepribadian seseorang terlihat dari cara ia berbicara dan menggunakan lisannya.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Makna Menjaga Lisan dalam Kehidupan Sehari-hari
Menjaga lisan berarti menahan diri dari ucapan yang bisa menimbulkan dosa, seperti ghibah, fitnah, atau kata-kata kasar.
Lisan yang tidak terjaga dapat menimbulkan perpecahan, merusak persaudaraan, bahkan menghapus pahala amal kebaikan.
Karena itu, Islam mengajarkan agar setiap Muslim berpikir sebelum berbicara dan memastikan kata-katanya membawa manfaat.
Dalam kehidupan sehari-hari, menjaga lisan bisa dilakukan dengan berbicara lembut kepada orang tua, sopan kepada teman, dan bijak dalam berkomentar di media sosial.
Di era digital, menjaga lisan berarti juga menjaga jari menahan diri dari menulis hal yang menyakiti atau menyebarkan berita palsu.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Bahaya Lisan yang Tidak Terjaga
Rasulullah SAW pernah bersabda kepada sahabat Mu’adz bin Jabal, “Tahanlah lisanmu.”
Mu’adz bertanya, “Apakah kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita ucapkan, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Bukankah manusia akan diseret ke dalam neraka karena hasil dari lisannya?” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini memperingatkan bahwa dosa lisan bisa lebih berbahaya daripada dosa perbuatan, karena satu ucapan saja bisa menimbulkan luka yang dalam atau kerusakan yang besar.
Dalam pergaulan sosial, ucapan yang tidak dijaga sering memicu konflik, salah paham, dan permusuhan.
Di sisi lain, lisan yang baik bisa menjadi sumber pahala besar.
Ucapan seperti dzikir, doa, atau nasihat yang menenangkan hati akan meninggikan derajat seseorang di sisi Allah.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Meneladani Rasulullah dalam Berbicara
Rasulullah SAW selalu berbicara dengan kata-kata yang jelas, lembut, dan penuh makna.
Beliau tidak pernah membicarakan hal yang sia-sia, tidak memotong pembicaraan orang lain, dan selalu memilih waktu yang tepat untuk berbicara.
Ketika menasihati, beliau tidak menggunakan kata keras, tetapi menyentuh hati dengan kelembutan.
Sikap ini menjadi teladan besar bagi umat Islam, terutama di masa sekarang ketika banyak orang lebih cepat bereaksi daripada berpikir.
Meneladani Rasulullah berarti berbicara dengan adab, mendengarkan dengan hormat, dan menggunakan lisan untuk menyebarkan kebaikan, bukan kebencian.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Kesimpulan
Menjaga lisan adalah kunci menuju akhlak mulia.
Lisan yang lembut mencerminkan hati yang bersih, sementara ucapan yang kasar menandakan kurangnya kendali diri.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kebahagiaan seorang Muslim bisa dimulai dari cara ia berbicara santun, jujur, dan menyejukkan.
Ketika seseorang mampu menahan lisannya dari keburukan dan menggunakannya hanya untuk kebaikan, maka ia telah menjaga salah satu pintu surga.
Karena pada akhirnya, kemuliaan seorang Muslim bukan diukur dari banyaknya kata, tetapi dari manfaat setiap ucapannya bagi sesama.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
















