MEDAN – “Pemimpin yang berhasil bukanlah yang mencari kekuasaan untuk diri sendiri, tetapi mendistribusikan kekuasaan kepada orang banyak,” ungkap Staf Ahli Gubernur Bidang Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur, dan Pemberdayaan Dr H Asren Nasution, MA saat membuka pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi di Medan, Rabu (7/11/2018)
Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi ini melibatkan mahasiswa dan pelajar dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPMU) Sumatera Utara.
Kemudian, lanjutnya, pemimpin berfungsi menentukan arah organisasi, menjadi panutan dan perwakilan organisasi, seorang komunikator yang efektif, mediator yang handal, sekaligus integrator yang rasional dan objektif.
“Organisasi memiliki keuntungan, salah satunya kemampuan untuk berinteraksi antarsesama organisasi lain, serta belajar menghargai pendapat orang atau organisasi lain,” ujarnya.
“Mahasiswa memiliki semangat yang lebih besar, maka aktivitas mahasiswa dalam sebuah organisasi adalah bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sebagai mahasiswa,” tegasnya lagi. Menurut Muhajir, mahasiswa yang aktif dalam organisasi lebih mampu merencanakan masa depan, karena terbiasa dengan manajemen. “Namun semuanya memerlukan proses serta kemampuan lain seperti kecakapan bahasa Inggris,” terusnya.
Asren juga menyebutkan, mahasiswa harus bersiap menghadapi tantangan besar yang terjadi era Revolusi Industri 4.0 yang terjadi saat ini. Perubahan pola baru ini membawa dampak terciptanya jabatan dan keterampilan kerja baru dan hilangnya beberapa jabatan lama.
Tantangan itu harus dihadapi sesuai pola kerja baru yang tercipta dalam revolusi 4.0. Satu faktor yang penting adalah ketrampilan dan kompetensi yang harus tetap secara konsisten ditingkatkan,” katanya.
Revolusi industri 4.0 merupakan integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi di dunia industri. Perubahan pun terjadi dalam dunia industri dewasa ini yang ditandai berubahnya iklim bisnis dan industri yang semakin kompetitif karena perkembangan teknologi informasi.
Oleh karena itu. katanya, lembaga pendidikan dan pelatihan Indonesia harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki nilai tambah sesuai kebutuhan pasar kerja.
“Dunia industri juga harus dapat mengembangkan strategi transformasi dengan mempertimbangkan perkembangan sektor ketenagakerjaan karena transformasi industri akan berhasil dengan adanya tenaga kerja yang kompeten” papar Maruli.
Di sisi lain,jelasnya, menjadi generasi yang hidup di era industri 4.0 harus mamiliki daya saing yang tinggi.
“Selain unggul di bidang akademik, generasi saat ini juga harus berdaya saing tinggi. Persaingan di luar dana sangat ketat, apalagi sekarang sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),” jelasnya. (wal)

















