Banjir Kota Medan: Solusi dari Pemko Medan
Pemerintah Kota Medan (Pemkot Medan) bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II berkomitmen untuk meningkatkan kolaborasi dalam mengatasi persoalan banjir yang semakin sering melanda Kota Medan, Sumatera Utara.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk respons terhadap meningkatnya intensitas curah hujan yang menyebabkan luapan sungai dan genangan air di banyak kawasan permukiman.
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Waas, menyatakan bahwa masalah banjir di Medan telah menjadi isu krusial dan membutuhkan penanganan cepat serta menyeluruh.
Ia menegaskan bahwa permasalahan ini tidak bisa ditangani secara sektoral, melainkan harus dilakukan secara terpadu antara pemerintah daerah dan instansi teknis terkait, khususnya BBWS Sumatera II yang memiliki kewenangan langsung dalam pengelolaan sungai dan infrastruktur pengendalian air.
“Situasi saat ini sudah sangat mendesak. Genangan air dan banjir tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tapi juga berpotensi merusak infrastruktur, menghambat mobilitas, dan berdampak pada perekonomian lokal.
Oleh karena itu, kami dari Pemkot Medan bersama BBWS Sumatera II harus meningkatkan kerja sama dan segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan ini,” ujar Rico dalam pernyataan resmi usai menghadiri rapat koordinasi, Selasa (21/10/2025).
Sebagian Besar Wilayah Medan Rawan Banjir, 17 dari 21 Kecamatan Terdampak
Menurut data yang disampaikan oleh Wali Kota, dari total 21 kecamatan yang ada di Kota Medan, setidaknya 17 kecamatan secara rutin mengalami banjir saat musim hujan.
Wilayah-wilayah tersebut paling rentan terdampak oleh luapan sungai dan buruknya sistem drainase, sehingga menyebabkan air tidak mengalir dengan baik dan menggenangi rumah warga maupun fasilitas umum.
“Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Medan sebagai kota besar yang menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan di Sumatera Utara harus menunjukkan kapasitasnya dalam mengelola lingkungan dan infrastruktur. Kota yang layak huni tidak boleh identik dengan banjir,” tambahnya.
Langkah Strategis: Normalisasi Sungai, Pembersihan Drainase, dan Pembangunan Saluran Baru
Dalam rapat koordinasi tersebut, Kepala BBWS Sumatera II, Feriyanto Pawenrusi, memaparkan rencana strategis yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat untuk mengurangi risiko banjir di Kota Medan.
Beberapa program utama yang akan dijalankan meliputi:
- Pembangunan saluran drainase baru khususnya untuk kawasan padat penduduk seperti Kawasan Industri Medan (KIM), Martubung, dan sekitarnya.
- Pembersihan saluran drainase tersier yang selama ini banyak mengalami penyumbatan akibat sampah dan sedimentasi.
- Normalisasi sungai-sungai besar di Kota Medan, termasuk Sungai Kera, agar daya tampung airnya meningkat dan aliran air tidak meluap ke permukiman.
“Kami sudah mengidentifikasi beberapa titik kritis yang menjadi sumber genangan. Salah satunya di sekitar wilayah KIM dan Martubung, yang akan kita prioritaskan dengan pembangunan drainase khusus yang terhubung langsung ke Sungai Kera.
Selain itu, pembersihan saluran dan normalisasi sungai juga akan dilakukan secara bertahap,” jelas Feriyanto.
Banjir Terbaru di Medan Rendam Lebih dari 3.000 Rumah
Sebagai catatan, banjir terakhir yang melanda Kota Medan pada Minggu (12/10) lalu menyebabkan lebih dari 3.181 rumah warga terendam air, menurut laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan.
Hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut menyebabkan sejumlah sungai meluap dan tidak mampu menampung debit air yang tinggi, sehingga air meluber ke lingkungan permukiman padat penduduk.
Banjir ini tidak hanya menyebabkan kerugian materil, tapi juga memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi lingkungan yang dianggap semakin memburuk.
Pemkot Harap Dukungan Pusat dan Peran Aktif Masyarakat
Pemkot Medan juga berharap adanya dukungan dari pemerintah pusat, baik dalam bentuk anggaran maupun percepatan proyek infrastruktur pengendalian banjir.
Selain itu, Rico Waas menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke saluran air.
“Kita harus selesaikan persoalan ini bersama-sama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Butuh kolaborasi dengan masyarakat dan semua pemangku kepentingan agar Medan bisa bebas dari banjir,” pungkasnya.
















