Penyebab Utama IHSG Anjlok Maret 2025 dan Akibatnya
Pada tanggal 18 Maret 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan drastis hingga 7%, mencapai level terendah sejak pandemi Covid-19. Kejadian ini tidak hanya mengejutkan para investor, tetapi juga menciptakan gejolak di pasar saham Indonesia.
Berapa Penurunan IHSG 18 Maret 2025
Pada tanggal 18 Maret 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan. IHSG anjlok hingga 5,02% pada satu titik, yang menyebabkan penghentian sementara perdagangan (trading halt) oleh Bursa Efek Indonesia.
Di akhir perdagangan, IHSG ditutup dengan penurunan sebesar 3,84%, atau turun 248,55 poin, mencapai level 6.223,38.
Selama sesi perdagangan tersebut, IHSG sempat menyentuh level terendah di 6.011,84 sebelum akhirnya ditutup di posisi tersebut. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia dan pasar keuangan secara keseluruhan.
Penyebab IHSG Anjlok
Defisit APBN yang Mengkhawatirkan
Salah satu faktor utama penyebab anjloknya IHSG adalah defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tercatat sebesar Rp31,2 triliun per Februari 2025.
Hal ini menunjukkan lemahnya penerimaan negara yang turun hingga 20,85% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh kontraksi dalam setoran pajak yang mencapai 30%.
Isu Mundurnya Menteri Keuangan
Rumor mengenai mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani juga menjadi pemicu ketidakpastian di pasar.
Analis mengungkapkan bahwa isu ini menciptakan gelombang kepanikan di kalangan investor, menyebabkan aksi jual yang masif. Ketidakpastian politik dan ekonomi ini memperburuk kondisi pasar yang sudah lesu.
Penurunan Peringkat Saham oleh Lembaga Internasional
Penurunan peringkat saham Indonesia oleh Goldman Sachs dan Morgan Stanley menambah tekanan pada IHSG. Peringkat yang diturunkan dari ‘overweight’ menjadi ‘market weight’ mencerminkan kekhawatiran terhadap risiko fiskal dan prospek ekonomi Indonesia. Hal ini membuat investor asing cenderung menarik dana mereka dari pasar saham Indonesia
Tekanan Jual Berkelanjutan
Dalam empat hari berturut-turut, terjadi tekanan jual yang signifikan, terutama di sektor teknologi. Saham-saham unggulan seperti DCI Indonesia mengalami penurunan drastis, bahkan menyentuh batas auto rejection bawah. Aksi jual ini mencerminkan panic selling dari para investor yang khawatir akan masa depan pasar.
Akibat IHSG Anjlok
Dampak Ekonomi Makro
Anjloknya IHSG memberikan dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Defisit APBN yang melebar dapat mempengaruhi belanja pemerintah dan investasi publik, yang pada gilirannya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi. Selain itu, ketidakpastian di pasar dapat mengurangi kepercayaan investor domestik dan asing.
Perubahan Pola Investasi
Investor kini lebih memilih untuk beralih ke aset yang lebih aman seperti obligasi daripada saham. Kondisi ini dapat mengubah dinamika investasi di Indonesia, dengan potensi penurunan lebih lanjut dalam nilai saham jika situasi tidak membaik.
Respon Pasar Global
Kejadian ini juga menarik perhatian pasar global, di mana investor mulai mempertimbangkan risiko investasi di Indonesia. Jika situasi terus memburuk, ada kemungkinan lembaga pemeringkat internasional lainnya akan mengikuti langkah Goldman Sachs dan Morgan Stanley dalam menurunkan peringkat















