Penyesalan Terbesar Manusia Saat Ajal Tiba
Ajal selalu datang tanpa pemberitahuan. Manusia sering merasa hidup masih panjang, padahal waktu terus bergerak dan tidak menunggu siapa pun. Dalam banyak nasihat Islam, detik-detik terakhir kehidupan menjadi fase paling jujur.
Pada saat itulah manusia menilai ulang seluruh perjalanan hidupnya. Ia melihat apa yang sudah ia lakukan, apa yang ia tinggalkan, dan apa yang seharusnya ia perbaiki. Penyesalan sering muncul bukan karena kurangnya harta atau jabatan, melainkan karena kesempatan berbuat baik yang terlewat begitu saja.
Waktu yang Disia-siakan
Manusia sering menganggap waktu sebagai sesuatu yang biasa. Ia bangun pagi, menjalani rutinitas, lalu mengakhiri hari tanpa evaluasi. Ia menunda taubat, menunda sedekah, dan menunda perubahan diri. Saat ajal tiba, kesadaran itu datang dengan keras.
Ia menyadari bahwa waktu merupakan nikmat terbesar yang pernah ia miliki. Ia menyesali hari-hari yang ia habiskan untuk hal sia-sia, perdebatan tidak penting, dan hiburan tanpa batas. Ia berharap bisa kembali meski hanya satu hari untuk memperbaiki arah hidupnya.
Ibadah yang Tidak Dijaga
Banyak manusia mengenal kewajiban, tetapi tidak menjaganya dengan sungguh-sungguh. Ia menjalankan ibadah saat suasana hati mendukung. Ia meninggalkan shalat karena lelah dan menunda doa karena merasa masih kuat. Ketika ajal mendekat, ia melihat ibadah sebagai penolong yang seharusnya ia jaga sejak awal.
Ia menyesali shalat yang ia tinggalkan, dzikir yang jarang ia ucapkan, dan Al-Qur’an yang jarang ia baca. Pada saat itu, ia ingin menambah satu sujud lagi, namun kesempatan sudah berakhir.
Hubungan dengan Sesama
Manusia hidup di tengah keluarga, tetangga, dan masyarakat. Dalam perjalanan itu, ia sering melukai orang lain dengan ucapan dan sikap. Ia memendam ego, menunda meminta maaf, dan merasa selalu benar. Saat ajal tiba, ingatan tentang hubungan yang rusak muncul satu per satu.
Ia teringat janji yang tidak ia tepati, amanah yang ia abaikan, dan hati yang ia sakiti. Ia menyadari bahwa kebaikan sosial memiliki nilai besar di sisi Tuhan. Penyesalan pun muncul karena ia tidak menyelesaikan urusan dengan sesama selagi hidup.
Harta dan Ambisi Dunia
Sebagian manusia menghabiskan hidup untuk mengejar materi. Ia bekerja tanpa henti, mengejar target, dan menumpuk kekayaan. Ia merasa aman dengan harta, padahal harta hanya titipan. Ketika ajal tiba, ia melihat kenyataan yang tidak bisa ia tolak.
Semua yang ia kumpulkan tertinggal, sementara ia berangkat sendirian. Ia menyesali sikap kikir, sedekah yang ia tunda, dan kepedulian yang tidak ia tumbuhkan. Pada saat itu, ia paham bahwa harta terbaik adalah yang pernah ia bagikan.
Ilmu yang Tidak Mengubah Perilaku
Manusia senang belajar dan mendengar nasihat. Ia mengikuti kajian, membaca buku, dan menyimpan pengetahuan. Namun, ia sering berhenti pada pemahaman, bukan pengamalan. Saat ajal tiba, ia menilai ilmunya dengan jujur.
Ia menyadari bahwa ilmu tanpa amal tidak memberi cahaya. Ia menyesali nasihat yang ia dengar tetapi tidak ia jalankan. Ia berharap bisa mengubah satu kebiasaan buruk dengan ilmu yang pernah ia miliki.
Keluarga yang Kurang Diperhatikan
Kesibukan sering membuat manusia lupa pada orang terdekat. Ia pulang dengan tubuh lelah dan hati kosong. Ia jarang mendengar cerita pasangan, jarang membimbing anak, dan jarang hadir secara utuh. Ketika ajal mendekat, wajah keluarga menjadi bayangan terakhir.
Ia merindukan kebersamaan sederhana, obrolan hangat, dan doa bersama. Ia menyesali waktu yang tidak ia luangkan dan perhatian yang tidak ia berikan.
Taubat yang Selalu Ditunda
Penyesalan terbesar manusia saat ajal tiba sering berakar pada taubat yang tertunda. Ia merasa masih memiliki banyak waktu untuk berubah. Ia menganggap dosa kecil dan mengulanginya tanpa rasa takut. Saat ajal mendekat, pintu taubat menyempit.
Ia ingin kembali untuk memperbaiki diri, tetapi kesempatan itu tidak lagi tersedia. Kesadaran ini menjadi pelajaran penting bagi siapa pun yang masih hidup.
Penutup
Kisah tentang penyesalan di akhir hayat bukan sekadar pengingat kematian, tetapi panggilan untuk berubah. Selagi waktu masih berjalan, manusia memiliki peluang untuk memperbaiki ibadah, menjaga hubungan, memanfaatkan harta, dan menghadirkan makna dalam hidup.
Kesadaran hari ini dapat mengubah masa depan. Hidup yang terarah akan melahirkan akhir yang tenang, bukan penyesalan yang panjang.
















