Kapolrestabes Medan Bersama Dosen UMSU Bersinergi Membangun Generasi Tertib dan Beretika
Fenomena kenakalan remaja di Kota Medan kini menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan dan aparat penegak hukum. Dari aksi balap liar, geng motor, hingga perundungan di sekolah, berbagai kasus tersebut menunjukkan adanya krisis moral dan lemahnya karakter di kalangan pelajar.
Data Polrestabes Medan tahun 2025 mencatat, hingga Juli terdapat 904 kasus kecelakaan lalu lintas, dengan 123 korban meninggal dunia dan 323 luka berat. Ironisnya, sebagian besar pelaku dan korban adalah remaja dan pelajar.
Kondisi ini menjadi alarm bahwa persoalan moral, kedisiplinan, dan etika berlalu lintas perlu dibenahi melalui pendidikan karakter sejak dini.
Inisiatif Polisi Masuk Sekolah: Upaya Edukatif Membangun Kesadaran Moral
Dalam upaya menekan kenakalan remaja dan meningkatkan kedisiplinan generasi muda, Kapolrestabes Medan, Kombes Dr. Jean Calvijn Simanjuntak, meluncurkan program inovatif “Polisi Menjadi Pembina Upacara di Sekolah”.
Program Polisi Masuk Sekolah ini menghadirkan aparat kepolisian secara langsung di tengah pelajar, bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga pembina moral, pendidik, dan motivator bagi siswa.
“Program ini bertujuan menanamkan nilai tanggung jawab sosial, disiplin, dan kesadaran hukum sejak dini,” ujar Kombes Dr. Jean Calvijn Simanjuntak.
Melalui kegiatan tersebut, polisi menyampaikan pesan moral secara langsung kepada siswa, mulai dari pentingnya menaati aturan lalu lintas, menghargai sesama pengguna jalan, hingga membangun empati sosial.
Pendekatan humanis ini sejalan dengan visi Polri Presisi yang mengedepankan pembinaan preventif, edukatif, dan dialogis dalam menjaga ketertiban masyarakat.
Sinergi Pendidikan dan Kepolisian untuk Generasi Bermoral

Program Polisi Masuk Sekolah menjadi wujud sinergi antara Polri dan dunia pendidikan dalam membangun generasi tertib dan bermoral.
Dari perspektif pendidikan karakter, kegiatan ini memberi dampak positif karena siswa belajar bahwa etika berlalu lintas dan perilaku sosial merupakan bagian penting dari keimanan dan moralitas publik.
Menurut Dr. Robie Fanreza, M.A., Akademisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam membentuk karakter pelajar yang sadar hukum dan berjiwa nasionalis.
“Transformasi moral generasi muda tidak cukup melalui kurikulum di kelas. Diperlukan keteladanan nyata seperti yang ditunjukkan melalui kehadiran polisi di sekolah. Ini adalah pendidikan karakter dalam tindakan,” jelas Dr. Robie.
Ia menegaskan bahwa kehadiran aparat kepolisian dalam kegiatan sekolah menunjukkan bahwa pendidikan sejati adalah kolaborasi antara pengetahuan, nilai, dan keteladanan. Polisi kini bukan hanya penjaga keamanan, tetapi juga mitra guru dalam membentuk disiplin dan empati sosial.
Langkah Lanjutan: Memperluas Gerakan Moral Bangsa
Ke depan, program Polisi Masuk Sekolah diharapkan tidak berhenti pada tingkat sekolah menengah saja, tetapi juga menyentuh perguruan tinggi dan komunitas masyarakat.
Upaya membangun moral bangsa yang kuat harus terus berlanjut melalui kegiatan nyata yang menyentuh ruang kesadaran publik.
Sinergi antara Polri, pendidik, tokoh agama, dan orang tua menjadi kunci dalam menciptakan generasi muda yang berkarakter, berdisiplin, dan bertanggung jawab.
Dengan membangun generasi yang tertib dan bermoral, bangsa Indonesia sedang menyiapkan masa depan yang lebih beradab, aman, dan berkeadilan, baik di jalan raya, di sekolah, maupun dalam kehidupan bermasyarakat.















