MEDAN – Edy Rahmayadi memutuskan mundur dari ketua umum PSSI dalam kongres tahunan di Bali akhir pekan lalu. Untuk sementara waktu, jabatan plt ketua umum PSSI dijabat oleh Djoko Driyono.
Sejumlah calon kuat pun bermunculan. Ada Cak Imin, Erick Thohir, Djoko Driyono, Moeldoko dan Rahim Sukasah.
Untuk ke depannya PSSI harus di kelola orang baru dan bersih. Bukan Ketua Umum saja yang baru tapi wakil ketua juga harus waja baru kalau mau perubahan.
Lalu, siapa yang pantas?. Dia tak lain Rahim Sukasah.
“Saya siap memimpin PSSI, biar beres, biar berprestasi, masuk gelanggang dunia,” kata Ben Tomasoa selaku sekretaris umum Askot PSSI Medan menirukan komitmen Rahim Skasah, kemarin
Rahim kata Beny merupakan sosok yang cocok untuk menempati posisi Ketua Umum PSSI. Sebab, mantan manajer tim Pelita nJaya itu dinilai sebagai sosok yang memiliki integritas tinggi.
Integritas, kejujuran, dan keadilan dalam sepak bola Indonesia disebut Beny menjadi penyakit yang saat ini sedang menjadi wabah di sepak bola Indonesia, baik di dalam kompetisi maupun di kepengurusan organisasi.
“Kalau yang dikumandangkan sosoknya Rahim, sosok yang punya integritas, itu klop, tepat. Sepak bola Indonesia butuh pemimpin yang omongan dan tindakannya sama,” katanya.
Untuk memperbaiki moral organisasi sepak bola Indonesia, lanjutnya, tidak hanya dibutuhkan perubahan dari sisi pimpinannya saja. Tapi, juga perubahan secara besar-besaran di kalangan Komite Eksekutif (Exco) melalui pergantian dengan sosok yang sama-sama memiliki integritas tinggi seperti pimpinannya.
“Karena semua ketidakjujuran, tidak adanya integritas itu sudah dipahami oleh lingkungan kepengurusan PSSI sekarang. Artinya mereka paham selain ketua, exco dan lainnya juga harus diganti dengan sosok yang punya integritas yang sama dengan pemimpinnya.”
Menurutnya, mental kepengurusan PSSI harus dirombak. Tak hanya posisi pemimpin, sejumlah posisi kunci di PSSI juga harus diisi orang-orang yang memiliki integritas.
“Jadi tidak hanya ketuanya yang diganti, tapi juga posisi-posisi kunci lainnya,” jelasnya.
Pergantian pucuk kepengurusan PSSI kembali ramai setelah rentetan prestasi Timnas Indonesia yang tidak dapat dibanggakan. Mulai dari melesetnya target juara di SEA Games 2017, Asian Games 2018, sampai prestasi jeblok skuat Garuda di Piala AFF 2018.

















