Sejarah Masjid Al Osmani Medan, Warisan Sultan Deli yang Tetap Kokoh dengan Warna Khas Kuning
Masjid Al Osmani merupakan salah satu bangunan bersejarah paling penting di Kota Medan. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya dan sejarah dari Kesultanan Deli. Dikenal juga dengan nama “Masjid Kuning” karena warna dominannya yang khas, masjid ini adalah cagar budaya yang masih kokoh berdiri sejak dibangun pada tahun 1854. Ketahui fakta sejarah serta fungsinya sebagai cagar budaya dan pusat pendidikan Islam di Medan.
Sejarah Pendirian Masjid Al Osmani
Masjid Al Osmani Medan dibangun pertama kali pada tahun 1854. Pendirinya adalah Sultan Osman Perkasa Alam, Sultan Deli ketujuh. Pada awalnya, masjid ini masih berbentuk sederhana dengan bahan kayu. Namun, fungsi utamanya tetap sebagai pusat ibadah dan kegiatan keagamaan masyarakat Melayu.Pada masa Sultan Mahmud Perkasa Alam, putra Sultan Osman, Masjid Al Osmani Medan diperluas dan diperkuat dengan bahan permanen sekitar tahun 1870-an. Sejak saat itu, masjid ini menjadi lebih kokoh dan berfungsi sebagai simbol kejayaan kerajaan Deli.
Arsitektur Masjid Al Osmani
Arsitektur Masjid Al Osmani Medan sangat unik karena memadukan gaya Timur Tengah, India, Spanyol, Melayu, dan Tiongkok. Setiap bagian bangunan menunjukkan keindahan budaya yang menyatu.
Selain itu, bentuk kubah, menara, serta detail ornamen masjid menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung yang datang dapat merasakan nuansa sejarah yang begitu kental.
Warna kuning pada Masjid Al Osmani Medan bukan sekadar pilihan dekorasi. Warna ini melambangkan kejayaan, kebangsawanan, dan kejernihan hati dalam budaya Melayu. Oleh karena itu, sebutan Masjid Kuning melekat kuat di kalangan masyarakat Medan.
Lokasi Masjid Al Osmani
Masjid Al Osmani Medan berada di kawasan Pekan Labuhan, Medan Labuhan. Lokasinya sekitar 17 kilometer dari pusat kota Medan. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi destinasi wisata religi. Banyak pengunjung datang untuk berziarah, belajar sejarah, sekaligus menikmati arsitektur kunonya.
Peran Masjid Al Osmani
Tempat utama melaksanakan ibadah shalat bagi umat Islam di Medan.
Pusat pendidikan agama Islam dengan kajian ilmu seperti tauhid, fiqh, dan tasawuf.
Tempat mempererat silaturahmi antara Kesultanan Deli dan masyarakat.
Pusat kebudayaan Melayu dan pelestarian tradisi lokal seperti Dzikir Ratibul Haddad dan tradisi Ramadhan.
Tempat perayaan hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Ramadan.
Tempat pertemuan sosial antar berbagai suku dan budaya di Medan.
Lokasi makam para raja Kesultanan Deli yang dihormati.
Pusat dakwah Islam dan pendidikan spiritual.
Tempat penyelenggaraan prosesi dan ritual adat Melayu Deli.
Berperan sebagai simbol identitas dan kekayaan sejarah Kota Medan.
Pusat kegiatan sosial-keagamaan yang mempererat hubungan antar warga.
Fungsi ekonomi historis sebagai tempat pasar mingguan sebelum dan sesudah salat Jumat.
Peran-peran ini menjadikan Masjid Al Osmani bukan sekadar bangunan ibadah, tapi juga pusat kehidupan sosial, budaya, pendidikan, dan sejarah yang penting di Medan.
















