Sejarah Masjid Lama Gang Bengkok Medan: Masjid Unik Peninggalan Tjong A Fie
Salah satu masjid bersejarah di Medan yang menarik perhatian wisatawan religi maupun pecinta sejarah adalah Masjid Lama Gang Bengkok, atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Bengkok.
Lokasinya berada di Jalan Masjid, Gang Bengkok, Kota Medan, tak jauh dari pusat perdagangan onderdil motor dan alat tulis yang didominasi pedagang Tionghoa.
Masjid ini merupakan simbol kerukunan dan toleransi, berdiri megah di tengah kawasan kota tua Medan yang dahulu menjadi saksi masa kolonial Belanda, penjajahan Jepang, hingga awal kemerdekaan Indonesia.
Asal Usul Masjid Bengkok Medan
Masjid Bengkok dibangun pada tahun 1874 atas inisiatif Tjong A Fie, tokoh Tionghoa terkenal yang berpengaruh di Tanah Deli pada masa Kesultanan Deli.
Saat itu, wilayah ini dipimpin oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, Sultan Deli ke-9.
Menurut penuturan Imam Rawatib Masjid Lama, Nasrun Tanjung, pembangunan masjid dilakukan atas permintaan Tjong A Fie setelah ia sukses dalam bisnis dan mendapat izin dari sultan.
Saat itu, umat Muslim di Medan belum memiliki masjid di pusat kota. Masjid terdekat hanya ada di kawasan Medan Labuhan, yaitu Masjid Al-Osmani.
Siapa Tjong A Fie?
Tjong A Fie adalah seorang imigran asal Tiongkok yang datang ke Medan di usia muda bersama gelombang pekerja kebun tembakau.
Meski awalnya bekerja di toko milik teman saudaranya, ia kemudian berkembang pesat dalam dunia perdagangan, menjadi tokoh penting di kalangan Tionghoa Medan, bahkan memiliki lahan perkebunan sendiri.
Kedekatan Tjong A Fie dengan berbagai kalangan, termasuk etnis Melayu, Arab, India, dan Belanda, menjadikannya tokoh yang dihormati.
Ia juga fasih berbahasa Melayu sebagai bentuk adaptasi di Tanah Deli.
Arsitektur Masjid Lama Gang Bengkok: Perpaduan Tionghoa, Melayu, Persia, dan Eropa
Masjid Bengkok Medan memiliki arsitektur unik karena memadukan gaya Tiongkok, Melayu, Persia, dan Eropa.
Bangunannya didominasi warna kuning dan hijau lumut, yang memiliki makna penting dalam budaya Melayu:
kuning sebagai lambang kejayaan dan kehormatan, hijau melambangkan kesuburan dan religiusitas.
Ciri khas lainnya adalah atap masjid yang menyerupai kelenteng, mencerminkan pengaruh arsitektur Tionghoa.
Di bagian dalam, terdapat empat tiang besar berwarna kuning keemasan dan mimbar tinggi lima meter untuk khatib, serta tempat azan dua meter untuk muazin.
Masjid ini juga memiliki menara setinggi 30 meter, tempat azan dikumandangkan secara manual sebelum adanya pengeras suara.
Warisan Budaya dan Toleransi
Setelah selesai dibangun, Tjong A Fie menyerahkan pengelolaan masjid ini kepada Kesultanan Deli.
Sultan menunjuk Syekh Haji Muhammad Yakub sebagai nazir pertama masjid.
Ia kemudian bekerja sama dengan Datuk Kesawan Muhammad Ali untuk memakmurkan masjid dan memperkenalkan berbagai tradisi, salah satunya adalah bubur anyang khas Melayu yang dibagikan setiap Ramadan.
Tradisi ini masih dipertahankan hingga kini, menjadi salah satu daya tarik kegiatan Ramadan di Masjid Bengkok.
- Lokasi Masjid Bengkok Medan
- Alamat: Gang Bengkok, Jalan Masjid, Kota Medan, Sumatera Utara
- Akses mudah dari pusat kota dan dekat dengan kawasan bisnis perdagangan
Kesimpulan
Masjid Bengkok bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol kerukunan antar etnis dan budaya di Medan.
Dengan arsitektur unik dan sejarah panjang, masjid ini menjadi destinasi wisata religi di Medan yang tak boleh dilewatkan.
Keberadaannya menunjukkan bahwa semangat toleransi dan gotong royong sudah hidup sejak ratusan tahun lalu di Tanah Deli.

















