Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) menjadi wadah strategis bagi mahasiswa untuk mengkaji berbagai persoalan sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, hukum, hingga kebijakan publik.
Tantangan terbesar dalam menyusun proposal PKM-RSH bukan terletak pada metode penelitian, melainkan pada kemampuan menemukan permasalahan yang relevan, aktual, dan memiliki nilai kebaruan.
Banyak proposal gagal lolos seleksi karena masalah yang diangkat terlalu umum, kurang kontekstual, atau tidak didukung fenomena nyata.
Oleh sebab itu, mahasiswa perlu memiliki strategi khusus dalam menggali permasalahan PKM-RSH agar penelitian yang diajukan tidak hanya menarik secara akademik, tetapi juga berdampak secara sosial.
Memahami Hakikat Permasalahan dalam PKM-RSH
Permasalahan PKM-RSH bukan sekadar topik penelitian, melainkan kesenjangan antara kondisi ideal dan realitas sosial yang terjadi di masyarakat. Permasalahan yang baik harus menunjukkan adanya ketidaksesuaian, konflik, atau tantangan yang belum terselesaikan secara optimal.
Dalam konteks sosial dan humaniora, masalah dapat muncul dari perilaku sosial, kebijakan publik, nilai budaya, relasi sosial, atau dinamika masyarakat. Semakin jelas akar masalah yang diidentifikasi, semakin kuat argumen penelitian yang dibangun dalam proposal.
Mengamati Fenomena Sosial di Lingkungan Sekitar
Langkah paling sederhana untuk menemukan masalah PKM-RSH adalah dengan mengamati lingkungan terdekat. Fenomena sosial sering kali hadir di sekitar kampus, keluarga, komunitas, atau ruang publik. Misalnya, perubahan pola interaksi sosial, rendahnya partisipasi masyarakat dalam program tertentu, atau ketimpangan akses layanan publik.
Mahasiswa perlu melatih kepekaan sosial dengan bertanya mengapa fenomena tersebut terjadi dan apa dampaknya bagi masyarakat. Dari proses observasi sederhana ini, potensi masalah penelitian dapat mulai dirumuskan secara sistematis.
Mengaitkan Fenomena dengan Data dan Fakta
Fenomena sosial yang diamati harus diperkuat dengan data agar tidak bersifat asumtif. Data dapat diperoleh dari laporan resmi pemerintah, hasil survei, publikasi jurnal, atau berita terpercaya. Data ini berfungsi untuk menunjukkan bahwa masalah yang diangkat benar-benar nyata dan signifikan.
Misalnya, jika fenomena yang diamati adalah rendahnya literasi digital di kalangan masyarakat desa, maka perlu ditunjukkan data pendukung terkait tingkat penggunaan teknologi atau hasil survei literasi digital. Dengan demikian, permasalahan menjadi lebih objektif dan terukur.
Menggali Masalah dari Isu Sosial yang Sedang Aktual
Isu-isu aktual sering kali menjadi sumber permasalahan yang potensial untuk PKM-RSH. Perubahan kebijakan pendidikan, transformasi digital, isu kesetaraan gender, kemiskinan, pengangguran, hingga konflik sosial merupakan contoh isu yang dapat dikaji dari perspektif sosial humaniora.
Mahasiswa perlu membaca perkembangan isu melalui media, jurnal ilmiah, atau laporan kebijakan. Dari isu tersebut, identifikasi aspek yang belum banyak dikaji atau dampak yang masih menimbulkan perdebatan. Celah inilah yang dapat dijadikan permasalahan penelitian.
Menggunakan Perspektif Teori Sosial dan Humaniora
Permasalahan PKM-RSH akan semakin kuat jika dikaitkan dengan teori yang relevan. Teori sosial, teori budaya, teori komunikasi, atau teori ekonomi dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena yang diamati. Teori membantu peneliti melihat masalah secara lebih mendalam dan sistematis.
Dengan menggunakan pendekatan teoritis, mahasiswa dapat menghindari perumusan masalah yang dangkal. Permasalahan tidak hanya dijelaskan secara deskriptif, tetapi juga dianalisis berdasarkan kerangka ilmiah yang jelas.
Menentukan Fokus Masalah yang Spesifik
Salah satu kesalahan umum dalam PKM-RSH adalah merumuskan masalah yang terlalu luas. Masalah yang terlalu umum akan menyulitkan dalam pengumpulan data dan analisis. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mempersempit fokus masalah berdasarkan ruang lingkup, subjek, dan konteks penelitian.
Misalnya, daripada meneliti “permasalahan pendidikan”, fokuskan pada “hambatan partisipasi belajar siswa di daerah pesisir”. Fokus yang spesifik akan memudahkan peneliti dalam menyusun tujuan, metode, dan luaran penelitian.
Menguji Kelayakan Masalah Penelitian
Sebelum ditetapkan sebagai masalah PKM-RSH, lakukan evaluasi kelayakan. Pastikan masalah dapat diteliti dalam waktu yang tersedia, data mudah diakses, serta sesuai dengan kemampuan tim. Masalah yang terlalu kompleks berisiko tidak terselesaikan secara optimal.
Selain itu, pastikan permasalahan memiliki nilai manfaat, baik secara akademik maupun sosial. Reviewer PKM cenderung menyukai penelitian yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat atau pengembangan ilmu pengetahuan.
Menyusun Rumusan Masalah yang Jelas dan Terarah
Rumusan masalah merupakan inti dari proposal PKM-RSH. Rumusan masalah harus disusun dalam bentuk pertanyaan penelitian yang jelas, fokus, dan dapat dijawab melalui metode yang dipilih. Hindari rumusan masalah yang ambigu atau terlalu banyak.
Rumusan masalah yang baik akan menjadi pedoman dalam menyusun tujuan penelitian, metode, serta pembahasan hasil. Semakin tajam rumusan masalah, semakin kuat struktur proposal secara keseluruhan.
Kesimpulan
Menemukan permasalahan PKM-RSH dari fenomena sosial dan humaniora membutuhkan kepekaan, ketelitian, serta kemampuan analisis yang baik.
Dengan mengamati fenomena nyata, memperkuatnya dengan data, mengaitkannya dengan teori, serta merumuskan masalah secara spesifik, mahasiswa dapat menghasilkan proposal PKM-RSH yang berkualitas dan berpeluang besar lolos pendanaan.
Proses ini sekaligus melatih mahasiswa menjadi peneliti yang peka terhadap realitas sosial dan mampu memberikan kontribusi ilmiah yang bermakna.

















