TPA Terjun Menuju Penuh, Medan Hadapi Darurat Sampah
Kota Medan saat ini menghadapi persoalan besar terkait pengelolaan sampah. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun yang menjadi satu-satunya lokasi pembuangan sampah di kota ini, terancam penuh dalam waktu tiga tahun ke depan. Jika tidak segera ditangani, pada tahun 2028 tumpukan sampah diperkirakan tidak akan tertampung lagi.
Hal ini disampaikan langsung oleh Wali Kota Medan, Rico Waas, saat memimpin kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di kawasan Danau Siombak, Kamis (5/6). Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa Kota Medan saat ini menghasilkan sekitar 1.500 hingga 1.600 ton sampah per hari.
“Baru saja dibersihkan, sehari kemudian sampah sudah menumpuk lagi. Kalau terus seperti ini, TPA kita bisa kolaps dalam hitungan tahun,” ujar Rico.
Solusi Bukan Sekadar Buang, Tapi Kelola
Pemerintah Kota Medan sedang mempersiapkan sistem baru untuk mengelola sampah dengan lebih efektif, memanfaatkan teknologi modern yang bisa menyisir dari hulu (sumber sampah) hingga hilir (pemrosesan akhir). Rico menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat untuk memilah sampah, terutama plastik, sejak dari rumah.
“Kita ingin sampah bukan hanya dibuang, tapi dikelola agar bisa didaur ulang dan bahkan memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” jelasnya.
Rico Belajar dari Jakarta: RDF Jadi Referensi
Untuk mencari solusi yang tepat, Wali Kota Rico melakukan kunjungan ke RDF Plant Rorotan di Jakarta Utara. RDF (Refuse Derived Fuel) adalah teknologi yang mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif, dan terbukti mengurangi beban sampah di Jakarta hingga 30 persen.
Rico menilai teknologi ini menjanjikan, tapi belum tentu cocok langsung diterapkan di Medan. Oleh karena itu, Pemko masih mengkaji dan membandingkan berbagai metode pengelolaan sampah dari daerah lain.
“Kami ingin menemukan cara yang paling pas untuk karakteristik Kota Medan. Bisa jadi RDF cocok, bisa juga tidak,” tambahnya.
Aksi Bersih dan Penanaman Bakau di Danau Siombak
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Medan dipusatkan di Danau Siombak, yang kini mengalami pencemaran serius akibat tumpukan sampah. Selama dua hari (4–5 Juni), lebih dari 250 peserta terlibat dalam kegiatan bersih-bersih dan penanaman 100 batang pohon bakau di sekitar danau.
Yudha Lesmana Pohan, Ketua Ikatan Alumni Kehutanan USU, mengatakan kegiatan ini tidak hanya bertujuan membersihkan sampah, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
“Pohon bakau yang kita tanam bisa menyerap karbon, melindungi biodiversitas air, dan jadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah tugas jangka panjang,” ungkap Yudha.
Kegiatan ini juga mendapat sambutan hangat dari kalangan mahasiswa. Nabila Putri Ramadhani, mahasiswa Fakultas Kehutanan USU, berharap masyarakat lebih peduli terhadap Danau Siombak yang menurutnya sangat berpotensi menjadi tempat wisata berbasis alam (ekowisata).
“Kalau dibiarkan kotor, siapa yang mau datang? Kita bersih-bersih bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depan pariwisata Medan,” tuturnya.
Kondisi darurat sampah di Kota Medan bukan hanya masalah pemerintah. Perubahan nyata hanya bisa terjadi jika seluruh pihak mulai dari pemerintah, komunitas, hingga warga terlibat aktif.
Dengan pendekatan teknologi, edukasi lingkungan, serta aksi nyata seperti yang dilakukan di Danau Siombak, harapannya Medan bisa lepas dari ancaman krisis sampah dan menjadi kota yang lebih bersih serta layak huni.

















