Perkembangan isu yang terjadi di tengah masyarakat terus menjadi perhatian publik. Berbagai dinamika tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam menyikapi perubahan yang ada.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada satu kelompok tertentu, tetapi juga memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas. Kondisi tersebut mendorong perlunya pemahaman yang lebih mendalam agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Sejumlah pihak menilai bahwa informasi yang akurat dan berimbang menjadi kunci dalam menghadapi situasi ini. Peran media pun dinilai penting dalam menyampaikan fakta secara objektif kepada masyarakat.
Nah buat kamu kepo, ini bahasa medan yang buat kamu geleng kepala:
Awak: saya atau kamu, tergantung konteks. “Awak masih di rumah ini.”
Bengak: bodoh atau bego.
Cengkunek: gaya, omong kosong.
Dongok: bodoh.
Eskete: tidak berteman atau musuhan.
Gondok: dongkol atau kesal.
Honda: sebutan umum untuk sepeda motor merek apa pun.
Ikan laga: ikan cupang.
Kedan: teman dekat atau sohib.
Lantak: habis atau tandas.
Manipol: sebutan untuk orang yang pelit.
Nembak: kabur, biasanya habis makan tidak bayar.
Ompa’an: sifat orang yang suka dibujuk-bujuk.
Pajak: pasar.
Raun-raun: jalan-jalan atau keliling kota.
Semak: berantakan atau tidak terurus.
Tengok: lihat atau perhatikan.
Uwak: orang yang sudah tua.
Wayar: kabel.
Aci: tidak boleh atau tidak adil.
Bedangkik: pelit.
Cakap: berbicara atau omong.
Doorsmeer: cuci mobil.
Getek: genit.
Kaco: kacau atau berantakan.
Lewong: hilang atau raib.
Mentiko: belagu, suka cari masalah.
Paten: bagus atau hebat.
Sedeng: agak gila.
Tokok: jitak kepala.
Angek: iri atau cemburu.
Beselemak: belepotan.
Cincong: banyak bicara.
Enceng: selesai.
Gecor: tidak bisa simpan rahasia.
Kongsi: berbagi.
Loak: payah atau jelek.
Nokoh: menipu.
Pinggir: teriakan minta berhenti di angkot.
Sor: suka.
Alamak: seruan kaget atau kesal.
Baling: rusak atau error.
Gerot: tingkah aneh, seperti gegar otak.
Kek: seperti atau mirip.
Merajuk: ngambek.
Perek: libur.
Setil: gaya.
Tumbok: pukul atau hantam.
Woi: panggilan atau seruan “hei”.
Berondok: sembunyi.
Bahasa Medan bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan karakter masyarakatnya yang apa adanya. Menggunakan bahasa ini dalam percakapan sehari-hari bisa menciptakan kedekatan dan suasana yang lebih akrab.
















