Etika Jalan Raya: Akademisi UMSU Dorong Budaya Tertib di Medan
Di tengah kompleksitas persoalan lalu lintas dan semakin mendesaknya kebutuhan membangun budaya tertib di ruang publik, dunia akademik menghadirkan langkah inspiratif.
Dua dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Dr. Robie Fanreza dan Dr. Amhar Nst, menyerahkan 50 buku Etika di Jalan Raya kepada Perpustakaan Kota Medan melalui Wali Kota Medan, Rico Waas.
Tindakan ini bukan sekadar kegiatan simbolis, tetapi dorongan nyata agar literasi dapat menjadi fondasi pembentukan perilaku beretika di jalan.
Penyerahan buku tersebut menunjukkan bahwa urusan lalu lintas bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan kepolisian, melainkan juga dunia pendidikan. Para akademisi ingin menegaskan bahwa etika berkendara merupakan nilai moral yang ikut menentukan karakter sebuah kota.
Tertib Dimulai dari Rumah
Dalam pertemuan di kantornya, Wali Kota Medan Rico Waas kembali menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengatur waktu keberangkatan anak-anak ke sekolah. Ia menilai kemacetan pagi hari bisa berkurang dengan disiplin sederhana yang dimulai dari rumah.
“Kalau jam masuk sekolah pukul 07.15 WIB, maka persiapan idealnya sudah dilakukan sejak satu jam sebelumnya,” ujarnya. Menurutnya, tepat waktu bukan hanya soal kedisiplinan, tetapi bentuk penghargaan terhadap pengguna jalan lainnya.
Literasi sebagai Penuntun Perilaku
Buku Etika di Jalan Raya kini dapat diakses masyarakat umum. Karya akademisi UMSU tersebut mengajarkan bahwa etika berlalu lintas tidak sebatas menaati rambu, melainkan memahami nilai moral di balik setiap aturan.
Harapannya, literasi ini mampu menjadi “rambu kesadaran” baru bagi warga untuk mengingatkan bahwa jalan raya adalah cerminan perilaku sosial dan tingkat ketertiban suatu kota.
Etika Lalu Lintas sebagai Upaya Kolektif
Pemerintah Kota Medan menegaskan bahwa membangun budaya beretika di jalan bukan hanya tugas aparat. Sinergi banyak pihak kepolisian, tokoh agama, lembaga pendidikan, komunitas, hingga ruang dakwah—harus berjalan bersama.
Lewat khutbah, kegiatan komunitas, diskusi publik, hingga kampanye digital, pesan bahwa menjaga adab di jalan merupakan bagian dari nilai moral bahkan ibadah perlu terus disampaikan. Jalan raya bukan hanya ruang mobilitas, tetapi juga ruang yang memantulkan karakter masyarakatnya.
Menuju Medan yang Lebih Beradab
Aksi penyerahan 50 buku ini menjadi simbol bahwa perubahan budaya dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan konsisten.
Literasi, keteladanan, disiplin, dan kerja sama menjadi pilar penting untuk membawa Medan menuju kota yang lebih aman dan tertib.
Dengan literasi sebagai landasan dan kolaborasi sebagai kekuatan, Medan memasuki babak baru dalam upaya membangun etika berlalu lintas yang berkelanjutan. Seluruh upaya ini bermuara pada satu visi besar: “Medan untuk Semua.”















