Doom spending merupakan fenomena ketika seseorang melakukan pengeluaran berlebihan saat berada dalam kondisi stres, ketidakpastian, atau menghadapi krisis.
Fenomena ini umumnya didorong oleh keinginan memperoleh kenyamanan instan di tengah tekanan emosional, resesi ekonomi, maupun perubahan besar dalam kehidupan. Dalam praktiknya, seseorang cenderung berbelanja tanpa pertimbangan matang dan mengeluarkan uang dalam jumlah besar.
Meski dapat memberikan rasa lega dalam waktu singkat, perilaku tersebut berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi keuangan dalam jangka panjang.
Banyak individu merasa upaya menabung menjadi sia-sia karena menganggap tujuan keuangan mereka sulit tercapai. Akibatnya, mereka lebih memilih menikmati kehidupan saat ini tanpa memikirkan kebutuhan di masa depan.
Terapi belanja sebenarnya bukan konsep baru. Konsumerisme telah lama dikenal sebagai cara memperoleh kepuasan instan, terutama ketika seseorang merasa sedih atau tertekan. Namun, doom spending memperburuk kondisi tersebut karena dapat memicu utang, menguras tabungan, hingga menyebabkan kekurangan dana untuk kebutuhan mendatang.
Mengutip laman resmi detikedu, doom spending menurut Bruce Y. Lee, Profesor Kebijakan dan Manajemen Kesehatan di City University of New York, dalam artikelnya di Psychology Today, terjadi ketika seseorang merasa tertekan akibat situasi seperti kekacauan politik di Amerika Serikat, krisis iklim global, serta berbagai permasalahan lainnya.
Dalam kondisi tersebut, individu cenderung membeli lebih banyak barang sebagai bentuk pelarian untuk meredakan stres. Meski demikian, fenomena doom spending tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga dialami di berbagai negara lain.
Untuk memahami lebih jauh, berikut fakta menarik serta strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
· Fakta Menarik Doom Spending
Peningkatan Belanja Impulsif di Masa Krisis
Saat tingkat ketidakpastian meningkat, banyak orang beralih ke belanja online sebagai sarana hiburan. Berdasarkan survei, sebanyak 52% masyarakat mengaku mengalami peningkatan belanja impulsif pada masa krisis.Dampak Psikologis
Doom spending sering dikaitkan dengan perasaan tidak berdaya atau kehilangan kendali. Individu yang merasa cemas atau tertekan mencari pelarian dengan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.Media Sosial Memperparah Situasi
Iklan di media sosial serta konten yang menampilkan gaya hidup mewah menjadi salah satu pemicu utama doom spending. Algoritma platform digital mendorong perilaku konsumtif dengan menampilkan iklan produk sesuai preferensi pengguna, sehingga meningkatkan dorongan belanja impulsif.Tren pada Generasi Muda
Generasi Z dan milenial dinilai lebih rentan mengalami doom spending karena kuatnya kebiasaan belanja online serta besarnya pengaruh media sosial. Mereka cenderung menghabiskan uang untuk barang tidak esensial sebagai upaya menenangkan diri di tengah tekanan sosial dan ekonomi.
· Strategi Mengatasi Doom Spending
Mengenali Pemicu Emosional
Langkah awal untuk mengatasi doom spending adalah menyadari pemicu emosional yang mendasarinya. Saat merasa stres, cemas, atau tidak nyaman, carilah alternatif lain untuk menenangkan diri, seperti meditasi, berolahraga, atau berbincang dengan orang terdekat.Buat Anggaran yang Jelas
Menyusun anggaran bulanan secara terperinci dapat membantu mengendalikan pengeluaran. Tentukan batas pengeluaran untuk kebutuhan tidak esensial dan disiplin dalam mematuhinya, sehingga belanja tetap dapat dilakukan secara terkendali.Tunda Pembelian
Ketika muncul dorongan membeli barang secara impulsif, cobalah menundanya selama 24 hingga 48 jam. Jeda waktu ini memberi kesempatan untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya keinginan sesaat.Batasi Akses ke Media Sosial dan E-commerce
Mengurangi paparan terhadap media sosial dan platform belanja online dapat menekan godaan berbelanja. Pengaturan waktu penggunaan aplikasi atau menghapus sementara aplikasi e-commerce dari ponsel dapat membantu mencegah pembelian impulsif.Fokus pada Tujuan Keuangan Jangka Panjang
Alih-alih menghabiskan uang untuk pengeluaran tidak terencana, tetapkan tujuan keuangan jangka panjang seperti menyiapkan dana darurat, berinvestasi, atau merencanakan liburan. Tujuan yang jelas dapat meningkatkan disiplin dalam mengelola keuangan.
Dengan demikian, doom spending merupakan fenomena yang kerap muncul saat seseorang berada di bawah tekanan emosional. Walaupun memberikan rasa nyaman sementara, perilaku ini berisiko menimbulkan masalah keuangan apabila tidak dikendalikan dengan bijak.
















