Penemuan kota kuno Iram Dzāt al-‘Imād menjadi salah satu temuan arkeologi yang paling menarik perhatian dunia Islam. Kota yang disebut sebagai negeri kaum ‘Ād ini dilaporkan berhasil diungkap sekitar tahun 1998 Masehi di kawasan Syasher, wilayah padang pasir Zhafar. Lokasinya berada sekitar 150 kilometer di sebelah utara kota Shoalalah dan sekitar 80 kilometer dari Tsamrit, wilayah selatan Kesultanan Oman.
Iram Dzāt al-‘Imād dikenal dalam Al-Qur’an sebagai kota dengan bangunan-bangunan bertiang tinggi yang belum pernah ada bandingannya pada masa itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ
الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ
(QS. Al-Fajr: 7–8)
“(Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain.”
Ayat tersebut menjelaskan keagungan peradaban kaum ‘Ād, umat Nabi Hud ‘alaihis salam. Mereka dianugerahi kekuatan fisik, kemajuan arsitektur, serta wilayah yang subur. Namun, kelebihan itu justru melahirkan kesombongan dan penolakan terhadap dakwah tauhid yang disampaikan Nabi Hud.
Akibat kedurhakaan tersebut, Allah menurunkan azab berupa angin yang sangat dingin dan kencang. Angin itu bertiup berhari-hari hingga menghancurkan kaum ‘Ād secara total. Pasir yang dibawa badai menimbun bangunan dan jejak peradaban mereka, menyebabkan seluruh peninggalan Iram menghilang dari permukaan bumi.
Kehancuran yang begitu menyeluruh inilah yang membuat banyak arkeolog dan sejarawan Barat pada masa lalu meragukan keberadaan kaum ‘Ād. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap kisah mereka dalam Al-Qur’an hanya bersifat simbolik atau sekadar legenda tanpa dasar sejarah. Ada pula yang secara terang-terangan menyebut kaum ‘Ād sebagai dongeng.
Pandangan tersebut mulai berubah ketika penelitian arkeologi intensif dilakukan pada dekade 1980–1990-an di kawasan ar-Rub’u al-Khali, wilayah Zhafar, Oman. Temuan-temuan struktur kuno, jalur perdagangan, serta bekas permukiman kuno memperkuat dugaan bahwa wilayah tersebut pernah menjadi pusat peradaban besar. Penelitian ini sekaligus memperkuat keterangan Al-Qur’an yang telah disampaikan lebih dari 1.400 tahun lalu.
Dalam Al-Qur’an, kaum ‘Ād dan negeri mereka disebutkan secara berulang. Penyebutan mereka tercatat dalam sekitar 18 surat, dengan dua surat utama yang merujuk langsung pada identitas dan wilayah mereka, yakni Surah Hud dan Surah Al-Ahqaf. Intensitas penyebutan ini menjadi keunikan tersendiri dibandingkan umat-umat lain yang juga dibinasakan.
Para ulama tafsir, ahli sejarah, dan ahli geografi Islam seperti ath-Thabari, as-Suyuthi, al-Qozwaini, al-Hamdani, Yaqut al-Hamawi, dan al-Mas’udi sepakat bahwa kaum ‘Ād termasuk golongan al-‘Arab al-Bā’idah, yaitu bangsa Arab kuno yang telah musnah jauh sebelum masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Golongan ini juga mencakup kaum Tsamud dan umat-umat purba lainnya.
Berdasarkan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, para ulama menjelaskan bahwa tempat tinggal kaum ‘Ād berada di wilayah Al-Ahqaf, bentuk jamak dari kata Haqf yang berarti gundukan pasir melengkung. Wilayah ini meliputi kawasan antara Hadhramaut, ar-Rub’u al-Khali, dan Oman bagian selatan, yang kini dikenal sebagai daerah Zhafar.
Nabi Hud ‘alaihis salam sendiri diyakini menetap di wilayah Hadhramaut setelah kehancuran kaumnya. Menurut riwayat, beliau wafat dan dimakamkan di sekitar Wadi Barhut, tidak jauh dari kota Tarim, Yaman.
Adapun mengenai bangunan bertiang tinggi yang menjadi ciri khas Iram, al-Hamdani dan Yaqut al-Hamawi menyebutkan bahwa kota tersebut dibangun oleh Syaddad bin ‘Ād. Kota megah itu akhirnya tertimbun pasir dan lenyap, hingga keberadaannya hanya tersisa dalam catatan sejarah dan kisah turun-temurun.
Penemuan kembali jejak Iram Dzāt al-‘Imād menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab spiritual, tetapi juga menyimpan kebenaran sejarah yang melampaui zaman. Kisah kaum ‘Ād mengajarkan bahwa kekuatan dan kemajuan peradaban tidak akan mampu menyelamatkan manusia apabila disertai kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran.















