Mengapa Harga Beras Naik? Ini Faktor Penyebab Kelangkaan
Mengapa harga beras naik belakangan ini? Kenapa harga beras naik padahal pemerintah menyatakan stok melimpah? Fenomena harga beras naik di pasar, yang melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET), menjadi sorotan publik, termasuk oleh DPR, BPS, dan kementerian terkait yang penasaran mengapa harga beras naik meski pasokan nasional diklaim aman.
Data Resmi dan Fakta Stok Beras
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan harga di tingkat penggilingan naik dari Rp 12.994/kg menjadi Rp 13.346/kg, sedangkan harga eceran di berbagai zona telah melewati HET Rp 12.500/kg untuk medium yaitu mencapai Rp 13.900‑14.600/kg.
Sementara itu, pemerintah menyatakan Bulog memiliki cadangan beras hingga 4,2 juta ton pada pertengahan tahun ini.
Menteri Pertanian juga menyebut produksi nasional 2025 mencapai 32,8 juta ton dengan target penyerapan Bulog hingga 3 juta ton.
Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan Harga
1. Distribusi Stok Tidak Lancar
Meskipun cadangan besar, stok Bulog belum disalurkan secara maksimal ke pasar. Banyak beras tertahan di gudang, tidak mengalir sesuai mekanisme first‑in‑first‑out.
Hal ini membuat pasokan di pasar tetap ketat dan harga beras naik terus sepanjang tahun.
2. Rantai Distribusi Lemah
Sistem distribusi antara petani, Bulog, dan pasar belum sinkron.
Produksi surplus mengalami kendala distribusi, sementara penggilingan dan pedagang kecil memiliki kapasitas terbatas.
Akibatnya harga di tingkat konsumen tetap tinggi.
3. Kebijakan Harga Tidak Terintegrasi
Pemerintah menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dari Rp 6.000 ke Rp 6.500/kg, tetapi HET beras medium dan premium tidak disesuaikan.
Margin pengolahan berkurang, mendorong sebagian pelaku usaha menahan stok atau menjual dengan harga lebih tinggi.
4. Permintaan Regional dan Ketimpangan Distribusi
Sebanyak ratusan daerah mencatat kenaikan harga beras pada pertengahan tahun, meskipun nasional mengalami surplus.
Wilayah surplus cenderung stabil, sedangkan daerah defisit mengalami lonjakan harga karena keterlambatan pasokan.
Kesimpulan
Kenaikan harga beras terjadi karena kombinasi distribusi yang tidak lancar, kebijakan harga yang kurang selaras, dan ketidakseimbangan antara daerah surplus dan defisit.
Pemerintah perlu mempercepat penyaluran cadangan beras, menyesuaikan kebijakan HET, dan memastikan distribusi berjalan merata.
Dengan langkah terkoordinasi dari hulu ke hilir, kenaikan harga beras bisa ditekan dan masyarakat bisa merasakan langsung manfaat dari stok nasional yang melimpah.
















