Mengenal Tuan Rondahaim Saragih dari Sumut Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional 2025
Sumatera Utara kembali berbangga. Salah satu putra terbaiknya, Tuan Rondahaim Saragih Garingging, resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional 2025. Penganugerahan ini diberikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada Hari Pahlawan, 10 November 2025.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, nama Tuan Rondahaim Saragih mungkin masih terdengar asing. Namun, di wilayah Simalungun, beliau dikenal sebagai raja pejuang yang tangguh dan berani menentang kolonialisme.Mengenal Tuan Rondahaim Saragih, pejuang asal Simalungun yang resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Simak kisah perjuangan dan semangat kepahlawanannya di artikel ini.
Siapa Sebenarnya Tuan Rondahaim Saragih?
Untuk Mengenal Tuan Rondahaim Saragih, kita perlu menelusuri jejak sejarahnya. Ia lahir pada tahun 1828 di Juma Simandei, wilayah yang kini dikenal sebagai Pematang Raya, Kabupaten Simalungun.
Beliau adalah pewaris takhta Kerajaan Raya, dan merupakan putra dari Tuan Jinmahadim Saragih Garingging, raja sebelumnya.
Setelah dewasa, Rondahaim dinobatkan sebagai Raja Raya ke-14 dengan gelar “Raja Raya Namabajan.”
Sebagai pemimpin, Mengenal Tuan Rondahaim Saragih berarti memahami sosok yang tidak hanya memerintah dengan bijak, tetapi juga siap berkorban untuk melindungi rakyatnya dari penjajahan.
Perjuangan Gigih Melawan Kolonialisme Belanda
Pada masa kepemimpinannya, Belanda mulai memperluas kekuasaan di wilayah Sumatera Timur. Mereka berusaha menguasai sumber daya alam dan perdagangan lokal. Namun, Tuan Rondahaim Saragih menolak keras upaya kolonial tersebut.
Ia lebih memilih berjuang melawan Belanda daripada menyerahkan kedaulatan wilayahnya.
Oleh karena itu, Mengenal Tuan Rondahaim Saragih juga berarti memahami semangat perlawanan terhadap penjajahan yang ia wariskan.
Ia tidak pernah tunduk pada tekanan dan lebih memilih mempertahankan kehormatan bangsanya.
Strategi Perang Gerilya yang Cerdik
Belanda menjuluki Tuan Rondahaim Saragih sebagai “Napoleon dari Tanah Batak.” Julukan ini muncul karena kecerdikannya dalam menyusun strategi perang.
Ia menghindari pertempuran terbuka dan menerapkan taktik perang gerilya. Pasukannya menyerang secara tiba-tiba dari balik hutan, memukul mundur Belanda tanpa perlawanan frontal.
Strategi ini membuat pasukan kolonial kewalahan. Selain itu, Mengenal Tuan Rondahaim Saragih berarti belajar bagaimana pemimpin lokal mampu mengimbangi kekuatan militer besar dengan taktik cerdas dan pemahaman medan yang mendalam.
Benteng Terakhir yang Tak Tertembus
Di bawah kepemimpinannya, Partuanan Raya menjadi satu-satunya kerajaan di Sumatera Utara yang tidak pernah sepenuhnya ditaklukkan oleh Belanda selama masa hidupnya.
Hal ini menunjukkan betapa kuatnya strategi pertahanan yang ia bangun.
Selain itu, ia juga menjalin diplomasi dengan kerajaan-kerajaan lain untuk memperkuat barisan perlawanan.
Beberapa pertempuran penting yang dipimpinnya antara lain:
- Pertempuran Dolok Merawan (21 Oktober 1887)
- Pertempuran Bandar Padang (12 Oktober 1889)
Dalam kedua pertempuran ini, pasukan Tuan Rondahaim Saragih berhasil memukul mundur pasukan kolonial.
Tidak heran, banyak sejarawan menilai bahwa Mengenal Tuan Rondahaim Saragih berarti mengenang kisah keteguhan seorang raja pejuang yang pantang menyerah.

















