Sejarah Masjid Raya Binjai, Cagar Budaya Ikonik Peninggalan Sultan Langkat
Jika kamu tertarik mempelajari warisan budaya di Sumatera Utara, maka Sejarah Masjid Raya Binjai menjadi topik yang wajib kamu ketahui. Masjid bersejarah ini bukan hanya tempat ibadah, namun juga simbol perjalanan panjang masyarakat Melayu di Kota Binjai. Selain itu, masjid ini termasuk cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Asal Usul dan Pendirian Masjid Raya Binjai
Pembahasan mengenai Sejarah Masjid Raya Binjai tidak bisa dilepaskan dari sosok Sultan Langkat. Sultan Haji Musa Al Khalid Al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) bin Raja Ahmad menjadi tokoh utama yang membangun masjid ini pada tahun 1881 M.
Pada masa itu, Sultan Langkat ingin menghadirkan pusat kegiatan keagamaan yang kokoh dan representatif. Oleh karena itu, beliau memilih lokasi strategis di kawasan yang kini berada di lingkungan Pasar Tavip, Kota Binjai. Selain itu, masjid ini berdiri di atas tanah wakaf seluas kurang lebih 1000 meter persegi.
Dengan demikian, Sejarah Masjid Raya Binjai menunjukkan bahwa keberadaan masjid ini mempunyai peran penting dalam perkembangan Islam di wilayah tersebut.
Keunikan Arsitektur Masjid Raya Binjai
Ketika kamu melihat bangunannya dari dekat, kamu akan melihat bahwa Sejarah Masjid Raya Binjai terwujud dalam bentuk arsitektur yang unik. Gabungan unsur Melayu, Cina, dan Eropa menjadi ciri khas utama bangunan bersejarah ini.
Selain itu, setiap ornamen yang menghias masjid dibuat dengan gaya khas era kerajaan Melayu. Di sisi lain, detail-detail arsitektur Eropa terlihat pada bentuk pilar dan jendela, sementara pengaruh Cina tampak pada elemen dekoratif di bagian atap.
Masjid ini dapat menampung hingga 1500 jamaah, sehingga keberadaannya sangat penting bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, masjid ini tidak hanya menjadi cagar budaya tetapi juga tetap aktif digunakan hingga saat ini.
Dengan berbagai keunikan tersebut, Sejarah Masjid Raya Binjai memperlihatkan perpaduan budaya yang harmonis dan mengakar kuat.
Masjid Raya Binjai dan Hubungannya dengan Istana Darul Aman
Selain fungsi religius, Sejarah Masjid Raya Binjai juga berkaitan erat dengan kompleks pemerintahan Kesultanan Langkat. Masjid ini merupakan bagian dari satu kesatuan bangunan dengan Istana Darul Aman dan Balai Raya.
Keterkaitan tersebut menunjukkan bahwa masjid pernah menjadi pusat aktivitas penting dalam pemerintahan dan masyarakat. Selain itu, kedekatan lokasi ini menggambarkan bagaimana kerajaan saat itu menempatkan agama sebagai fondasi utama dalam kehidupan sosial.
Oleh karena itu, Sejarah Masjid Raya Binjai sangat penting untuk dipahami sebagai bagian dari warisan kerajaan di masa lalu.
Lokasi Masjid Raya Binjai
Masjid Raya Binjai berlokasi di: 📍 Jalan K.H.A. Wahid Hasyim No. 3, Pasar Tavip, Kota Binjai, Sumatera Utara
Lokasi ini sangat mudah kamu temukan karena berada di pusat kota. Di sisi lain, akses menuju masjid juga dekat dari pasar, pusat aktivitas warga, dan fasilitas publik lainnya. Oleh karena itu, masjid ini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang paling mudah dijangkau.
Dengan memahami lokasinya, pembahasan mengenai Sejarah Masjid Raya Binjai menjadi semakin lengkap dan relevan untuk kamu yang ingin mengunjungi langsung.
Mengapa Mesjid Raya Binjai Menjadi Cagar Budaya?
Masjid Raya Binjai adalah salah satu peninggalan Kesultanan Langkat yang tersisa dan masih berdiri kokoh. Keberadaannya menunjukkan hubungan erat antara Binjai dan Kesultanan Langkat sejak sekitar tahun 1600-an. Saat itu, Binjai menjadi bagian wilayah Langkat.
Sebagai cagar budaya, Sejarah Masjid Raya Binjai memiliki peran penting dalam pengembangan sejarah dakwah Islam di Sumatera Utara. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah. Ia juga menjadi simbol warisan budaya Melayu yang kaya akan nilai sejarah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kelestarian Sejarah Masjid Raya Binjai.

















