Sejarah Pertempuran Medan Area 9 Oktober 1945 Usai Kemerdekaan Indonesia
Pertempuran Medan Area merupakan salah satu peristiwa penting dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Hatta, situasi di berbagai daerah masih belum stabil. Pada 9 Oktober 1945, pasukan Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly mendarat di Medan.
Tujuan awal mereka adalah membebaskan tawanan perang Jepang serta menjaga ketertiban pascaperang. Namun, kedatangan Sekutu yang disertai oleh NICA (pemerintah sipil Belanda) menimbulkan kecurigaan rakyat. Kehadiran ini kemudian menjadi pemicu munculnya perlawanan rakyat Medan terhadap kembalinya kekuasaan kolonial.
Latar Belakang Pertempuran Medan Area
Setelah kemerdekaan diproklamasikan, banyak daerah menghadapi kekosongan kekuasaan, termasuk di Sumatera Utara. Pendaratan pasukan Sekutu di Belawan pada 9 Oktober 1945 membawa serta NICA yang bertugas menangani tawanan perang Belanda. Pada awalnya, kehadiran mereka disambut baik karena dianggap membantu membebaskan tawanan. Namun, kabar bahwa Belanda ingin kembali menguasai Indonesia menimbulkan kewaspadaan dan kecurigaan di kalangan rakyat Medan. Situasi ini menjadi bagian penting dalam sejarah perlawanan yang dikenal dengan Pertempuran Medan Area.
Insiden Pemicu Konflik Pertempuran Medan Area
Konflik besar terjadi pada 13 Oktober 1945 di Jalan Bali, Medan. Seorang perwira NICA merampas dan menginjak bendera merah putih milik seorang pemuda Indonesia. Tindakan tersebut memicu kemarahan rakyat dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pertempuran pun pecah antara laskar rakyat dengan pasukan Sekutu–NICA. Perlawanan ini meluas ke wilayah Pematang Siantar dan Berastagi, memperlihatkan semangat juang rakyat Medan dalam mempertahankan kemerdekaan.
Kronologi Pertempuran Medan Area
Pertempuran berlangsung sejak Oktober 1945 hingga April 1946. Beberapa peristiwa pentingnya adalah:
9 Oktober 1945
Pasukan Sekutu dan NICA mendarat di Medan. Kedatangan mereka disambut Gubernur Sumatera Utara, Teuku Mohammad Hasan, namun juga disertai pembentukan Batalyon KNIL.
13 Oktober 1945
Insiden Jalan Bali memicu perlawanan rakyat. TKR dan laskar pemuda menyerbu gedung pemerintahan di Medan.
18 Oktober 1945
Sekutu mengeluarkan ultimatum agar rakyat menyerahkan senjata, namun ditolak.
1 Desember 1945
Sekutu menetapkan batas kota dengan papan bertuliskan “Fixed Boundaries Medan Area”, yang semakin memperuncing ketegangan.
10 Desember 1945
Sekutu dan NICA melancarkan serangan besar-besaran terhadap Medan.
April 1946
Medan jatuh ke tangan Sekutu, dan pusat pemerintahan RI di Sumatera Utara dipindahkan ke Pematang Siantar.
Dampak Pertempuran Medan Area
Pertempuran Medan Area meninggalkan sejumlah dampak besar, di antaranya:
- Banyak pejuang gugur, tercatat tujuh pemuda Indonesia dan tujuh anggota NICA tewas, serta puluhan lainnya luka-luka.
- Kota Medan dikuasai Sekutu hingga April 1946, memaksa pemerintah RI memindahkan pusat pemerintahan ke Pematang Siantar.
- Pada 10 Agustus 1946 dibentuk Resimen Laskar Rakyat Medan Area (RLMA) untuk memperkuat perjuangan rakyat.
Pasca pertempuran, dilakukan perundingan untuk menetapkan batas wilayah di Medan Area demi menghindari bentrokan lanjutan.

















