Tes urine merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang paling umum digunakan dalam dunia medis untuk mengetahui adanya penyalahgunaan zat terlarang.
Sebagai metode diagnostik yang praktis dan efisien, tes urine mampu memberikan informasi penting mengenai berbagai zat yang masuk ke dalam tubuh seseorang, mulai dari narkotika, obat-obatan terlarang, hingga kandungan alkohol.
Mengutip laman resmi Siloam Hospital, dalam proses penetapan diagnosis, dokter akan menilai urine berdasarkan bau, warna, serta kandungan zat yang terdapat di dalamnya. Lalu, bagaimana tahapan pemeriksaan urine dilakukan? Berikut penjelasannya.
Apa itu Tes Urine?
Tes urine atau urinalisis merupakan prosedur pemeriksaan yang menggunakan sampel urine untuk mengidentifikasi gangguan kesehatan dalam tubuh. Sebagai contoh, urine yang tampak keruh dapat menjadi indikasi infeksi, urine yang terlalu pekat bisa menandakan dehidrasi, sementara urine dengan aroma manis dapat mengarah pada diabetes.
Selain dari segi warna, pemeriksaan urine juga menilai komposisi, tingkat konsentrasi, dan aroma urine yang dipengaruhi oleh berbagai zat di dalam tubuh, seperti protein, sel darah, bilirubin, glukosa, hingga bakteri.
Sebelum dikeluarkan dari tubuh, urine melewati organ ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Gangguan atau kerusakan pada salah satu organ tersebut dapat memengaruhi kondisi urine, baik dari segi warna, bau, maupun kandungan zat di dalamnya.
Tujuan dari Tes Urine
Tujuan utama tes urine adalah untuk mendeteksi adanya gangguan kesehatan sehingga dokter dapat menentukan penanganan yang tepat. Selain itu, tes urine juga berfungsi untuk mendeteksi zat berbahaya, membantu menegakkan diagnosis penyakit, memantau perkembangan kondisi pasien, memastikan kehamilan, serta sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin.
Prosedur Pengambilan Sampel Urine
Proses pengambilan sampel urine dilakukan menggunakan wadah khusus dengan memperhatikan kebersihan serta jumlah urine yang dibutuhkan. Terdapat tiga jenis pemeriksaan urine, yaitu pemeriksaan visual, dipstick, dan mikroskopis. Masing-masing metode bertujuan untuk menilai karakteristik urine dari aspek yang berbeda.
Apabila hasil tes urine menunjukkan adanya ketidaknormalan, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan urine saja umumnya belum cukup untuk menentukan penyakit secara pasti, sehingga diperlukan pemeriksaan tambahan guna mengetahui penyebab keluhan yang dialami pasien dan menentukan perawatan yang sesuai.
















