Memiliki rumah sendiri menjadi impian banyak orang, termasuk mereka yang berpenghasilan di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Kondisi penghasilan yang terbatas sering kali membuat masyarakat ragu mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Namun, hadirnya KPR syariah membuka peluang lebih luas karena sistemnya mengedepankan prinsip keadilan, transparansi, dan tanpa riba.
KPR syariah tidak hanya menawarkan skema pembiayaan yang sesuai syariat, tetapi juga memberikan fleksibilitas bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Dengan strategi yang tepat dan persiapan matang, peluang lolos KPR syariah tetap terbuka meski penghasilan berada di bawah UMR.
Artikel ini membahas langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan agar pengajuan KPR syariah memiliki peluang lebih besar untuk disetujui.
Memahami Skema KPR Syariah Secara Menyeluruh
Langkah awal yang sangat penting adalah memahami cara kerja KPR syariah. Berbeda dengan KPR konvensional, KPR syariah tidak menggunakan sistem bunga. Bank syariah menerapkan akad seperti murabahah, musyarakah mutanaqisah, atau ijarah muntahiyah bit tamlik.
Dalam akad murabahah, bank membeli rumah yang diinginkan nasabah lalu menjualnya kembali dengan margin keuntungan yang disepakati sejak awal. Cicilan bersifat tetap hingga akhir tenor, sehingga nasabah tidak perlu khawatir terhadap perubahan suku bunga.
Pemahaman ini penting agar calon nasabah dapat menyesuaikan kemampuan finansial sejak awal. Dengan memahami akad dan kewajiban dalam KPR syariah, calon pemohon dapat memilih produk yang paling sesuai dengan kondisi penghasilan dan kebutuhan jangka panjang.
Mengatur Keuangan agar Terlihat Sehat
Salah satu faktor utama yang dinilai bank dalam pengajuan KPR adalah kondisi keuangan pemohon. Meski penghasilan di bawah UMR, bank tetap mempertimbangkan stabilitas dan pengelolaan keuangan. Oleh karena itu, penting untuk menunjukkan bahwa keuangan dikelola dengan baik.
Langkah praktis yang bisa dilakukan adalah mengurangi pengeluaran tidak penting dan menjaga rasio cicilan tetap rendah. Idealnya, total cicilan bulanan tidak melebihi 30–40 persen dari penghasilan. Selain itu, membiasakan menabung secara rutin juga menunjukkan kedisiplinan finansial di mata bank.
Rekening tabungan dengan arus masuk yang stabil dapat menjadi nilai tambah. Bank akan melihat kebiasaan finansial sebagai indikator kemampuan membayar cicilan dalam jangka panjang.
Memilih Rumah Sesuai Kemampuan Finansial
Strategi penting lainnya adalah memilih rumah dengan harga yang realistis. Banyak pengajuan KPR ditolak karena nilai rumah terlalu tinggi dibandingkan penghasilan pemohon.
Calon nasabah dengan penghasilan di bawah UMR sebaiknya mencari rumah subsidi atau rumah dengan harga terjangkau yang bekerja sama dengan bank syariah.
Rumah subsidi biasanya memiliki cicilan yang lebih ringan dan tenor panjang. Pemerintah juga memberikan berbagai kemudahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk memiliki rumah pertama.
Dengan memilih rumah yang sesuai kemampuan, risiko gagal bayar dapat diminimalkan dan peluang persetujuan KPR menjadi lebih besar.
Memperkuat Status Pekerjaan dan Penghasilan
Stabilitas pekerjaan menjadi aspek krusial dalam pengajuan KPR. Bank syariah umumnya lebih mempertimbangkan pemohon dengan pekerjaan tetap, meskipun penghasilannya tidak besar. Jika memungkinkan, pastikan status pekerjaan sudah permanen atau memiliki kontrak kerja jangka panjang.
Bagi pekerja informal atau wiraswasta, penting untuk memiliki catatan penghasilan yang rapi. Rekening koran, laporan usaha sederhana, atau bukti transaksi dapat membantu meyakinkan bank bahwa penghasilan tetap mengalir secara konsisten.
Selain itu, memiliki penghasilan tambahan, meskipun kecil, dapat menjadi nilai tambah. Penghasilan sampingan menunjukkan kemampuan ekstra dalam memenuhi kewajiban cicilan.
Menyiapkan Uang Muka yang Lebih Besar
Uang muka atau down payment (DP) memiliki pengaruh besar terhadap besaran cicilan. Semakin besar DP yang dibayarkan, semakin kecil cicilan bulanan yang harus ditanggung. Bagi pemohon dengan penghasilan di bawah UMR, menyiapkan DP lebih besar dapat meningkatkan peluang persetujuan.
Menabung secara khusus untuk DP sebelum mengajukan KPR merupakan strategi yang bijak. Bank akan melihat keseriusan dan komitmen pemohon dalam memiliki rumah. DP yang cukup juga menurunkan risiko pembiayaan bagi bank, sehingga pengajuan lebih mudah disetujui.
Memanfaatkan Program dan Kebijakan Pendukung
Pemerintah dan bank syariah sering menghadirkan program khusus untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah. Program KPR subsidi, bantuan pembiayaan perumahan, atau margin ringan dapat menjadi solusi yang sangat membantu.
Calon pemohon disarankan aktif mencari informasi mengenai program-program tersebut. Berkonsultasi langsung dengan pihak bank syariah atau pengembang perumahan dapat membuka peluang mendapatkan skema pembiayaan yang lebih sesuai kondisi finansial.
Menjaga Riwayat Pembiayaan Tetap Bersih
Riwayat pembiayaan menjadi pertimbangan penting dalam analisis bank. Catatan kredit yang bersih menunjukkan tanggung jawab dan kedisiplinan dalam memenuhi kewajiban keuangan. Oleh karena itu, pastikan tidak memiliki tunggakan cicilan atau masalah pembiayaan sebelumnya.
Jika pernah memiliki keterlambatan pembayaran, sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu sebelum mengajukan KPR. Riwayat yang baik akan meningkatkan kepercayaan bank terhadap kemampuan dan komitmen pemohon.
Kesimpulan
Mengajukan KPR syariah dengan penghasilan di bawah UMR bukan hal yang mustahil. Dengan strategi yang tepat, persiapan matang, dan pemahaman yang baik terhadap sistem KPR syariah, peluang untuk lolos tetap terbuka.
Pengelolaan keuangan yang sehat, pemilihan rumah sesuai kemampuan, serta pemanfaatan program pendukung menjadi kunci utama.
KPR syariah menawarkan solusi kepemilikan rumah yang adil dan transparan. Dengan niat yang kuat dan langkah yang terencana, impian memiliki rumah sendiri tetap dapat terwujud meskipun dengan penghasilan terbatas.
















