Tips Menyusun Keterbaharuan Penelitian untuk Skripsi, Tesis, dan Disertasi
Dalam dunia akademik, keterbaharuan penelitian atau novelty menjadi salah satu unsur penting yang menentukan kualitas sebuah karya ilmiah.
Baik pada jenjang skripsi, tesis, maupun disertasi, mahasiswa dituntut untuk menghadirkan penelitian yang tidak sekadar mengulang kajian sebelumnya, tetapi mampu memberikan nilai tambah bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Sayangnya, banyak mahasiswa yang masih bingung dalam merumuskan aspek keterbaharuan, sehingga penelitian yang dilakukan terkesan repetitif dan kurang kuat secara akademik. Keterbaharuan bukan berarti harus menemukan teori baru yang sepenuhnya berbeda.
Dalam konteks karya ilmiah mahasiswa, novelty dapat berupa pengembangan konsep, perbedaan objek, pendekatan, metode, atau sudut pandang analisis. Dengan pemahaman yang tepat, menyusun keterbaharuan penelitian menjadi lebih realistis dan terarah.
Memahami Makna Keterbaharuan Penelitian
Langkah awal dalam menyusun novelty adalah memahami maknanya secara benar. Keterbaharuan penelitian merujuk pada unsur kebaruan yang membedakan penelitian yang dilakukan dengan penelitian sebelumnya. Kebaruan ini dapat bersifat teoritis maupun praktis.
Dalam skripsi, keterbaharuan umumnya berskala kecil, seperti penggunaan objek yang berbeda atau penguatan temuan terdahulu dengan data terbaru. Pada tesis, kebaruan mulai diarahkan pada pengembangan model atau integrasi beberapa variabel.
Sementara itu, disertasi menuntut novelty yang lebih substansial, seperti pengembangan teori, model konseptual, atau pendekatan metodologis baru.
Melakukan Kajian Literatur secara Mendalam
Kajian literatur merupakan kunci utama dalam menemukan celah penelitian. Dengan membaca jurnal, buku, dan laporan penelitian yang relevan, peneliti dapat mengetahui apa saja yang sudah diteliti dan bagian mana yang masih belum banyak dikaji.
Literatur yang dibaca sebaiknya berasal dari sumber terkini, terutama jurnal ilmiah lima hingga sepuluh tahun terakhir.
Dari kajian tersebut, peneliti dapat mengidentifikasi inkonsistensi hasil penelitian, keterbatasan metodologi, atau konteks yang belum disentuh. Celah inilah yang menjadi dasar penyusunan keterbaharuan penelitian.
Menentukan Fokus Penelitian yang Spesifik
Banyak penelitian kehilangan unsur kebaruan karena fokus yang terlalu luas. Oleh karena itu, mempersempit fokus menjadi langkah penting. Fokus yang spesifik memudahkan peneliti dalam membangun argumen kebaruan secara jelas.
Misalnya, jika banyak penelitian membahas suatu fenomena secara umum, peneliti dapat memfokuskan kajian pada kelompok tertentu, wilayah tertentu, atau periode waktu tertentu. Pendekatan ini sederhana, tetapi tetap sah secara akademik selama memiliki relevansi dan kontribusi ilmiah.
Mengembangkan Variabel, Indikator, atau Model
Salah satu cara efektif untuk menghadirkan novelty adalah dengan mengembangkan variabel atau indikator penelitian. Pengembangan ini bisa berupa penambahan variabel moderasi atau mediasi, atau penggabungan beberapa konsep yang sebelumnya diteliti secara terpisah.
Selain itu, peneliti juga dapat menyusun model konseptual baru berdasarkan sintesis teori dan temuan empiris. Model ini kemudian diuji secara kuantitatif atau dikaji secara kualitatif sesuai dengan pendekatan penelitian yang digunakan.
Menggunakan Pendekatan dan Metode yang Berbeda
Keterbaharuan tidak selalu terletak pada topik, tetapi juga dapat muncul dari pendekatan penelitian. Mengkaji topik yang sama dengan metode yang berbeda dapat menghasilkan perspektif baru.
Sebagai contoh, fenomena yang sering diteliti secara kuantitatif dapat dikaji menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali makna yang lebih mendalam. Demikian pula, penggunaan metode campuran atau teknik analisis yang lebih mutakhir dapat menjadi nilai kebaruan yang kuat.
Menyesuaikan Keterbaharuan dengan Jenjang Pendidikan
Penting bagi mahasiswa untuk menyesuaikan tingkat keterbaharuan dengan jenjang akademiknya. Skripsi tidak dituntut untuk menemukan teori baru, tetapi cukup memberikan kontribusi praktis atau penguatan hasil penelitian sebelumnya.
Pada tingkat tesis, novelty dapat ditunjukkan melalui pengembangan konsep atau perbandingan lintas konteks. Sementara pada disertasi, keterbaharuan harus dirumuskan secara eksplisit dan mampu menunjukkan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu.
Merumuskan Keterbaharuan secara Tertulis dan Sistematis
Setelah menemukan unsur kebaruan, langkah selanjutnya adalah merumuskannya secara tertulis. Keterbaharuan sebaiknya dijelaskan secara eksplisit dalam latar belakang, rumusan masalah, atau bagian khusus novelty jika diminta oleh pedoman institusi.
Gunakan bahasa yang lugas dan argumentatif. Jelaskan posisi penelitian Anda dibandingkan penelitian sebelumnya, serta kontribusi yang diharapkan dari hasil penelitian. Penyajian yang jelas akan memudahkan dosen pembimbing dan penguji dalam memahami nilai penelitian Anda.
Kesimpulan
Menyusun keterbaharuan penelitian bukanlah hal yang mustahil jika dilakukan dengan strategi yang tepat. Melalui kajian literatur yang mendalam, fokus penelitian yang jelas, serta pemilihan metode yang sesuai, mahasiswa dapat menghadirkan novelty yang relevan dan bernilai akademik.
Baik pada jenjang skripsi, tesis, maupun disertasi, keterbaharuan menjadi bukti bahwa penelitian yang dilakukan tidak sekadar mengulang, tetapi turut berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
















