Pendidikan keuangan merupakan keterampilan hidup yang penting dan perlu diperkenalkan sejak usia dini. Pemahaman tentang uang membantu anak tumbuh mandiri, bertanggung jawab, serta lebih siap menghadapi tantangan finansial di masa depan.
Di tengah perkembangan ekonomi yang semakin dinamis, anak tidak cukup hanya dibekali pelajaran akademik. Literasi keuangan menjadi fondasi agar anak mampu mengelola keuangan secara bijak di setiap tahap kehidupannya.
Pendidikan keuangan bukan hanya soal menabung atau menerima uang saku. Anak juga perlu memahami cara mengambil keputusan finansial, mengatur kebutuhan, dan menghindari risiko keuangan sejak awal.
Berdasarkan informasi dari halaman resmi Kementerian Keuangan, banyak orang dewasa mengalami kesulitan finansial karena minimnya edukasi keuangan sejak kecil. Oleh sebab itu, peran orang tua sangat penting dalam mengenalkan konsep keuangan secara sederhana dan konsisten.
Berikut 6 langkah menanamkan keterampilan finansial pada anak yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Menanamkan Kebiasaan Menabung Sejak Dini
Menabung menjadi dasar utama dalam pendidikan keuangan anak. Orang tua dapat membiasakan anak menyisihkan sebagian uang saku secara rutin agar terbentuk kebiasaan menyimpan uang.
Untuk membantu pengelolaan yang lebih rapi, anak dapat dikenalkan dengan pola 50-30-20, yaitu 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan. Pola ini membantu anak memahami keseimbangan dalam mengatur keuangan.
2. Mengajarkan Pengeluaran dan Skala Prioritas
Anak perlu memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Pemahaman ini membantu mereka tidak mudah menghabiskan uang untuk hal yang kurang penting.
Melalui kegiatan sederhana seperti membuat daftar belanja, anak belajar menentukan prioritas dan mempertimbangkan manfaat sebelum melakukan pembelian.
3. Mengenalkan Konsep Investasi Secara Sederhana
Investasi dapat dikenalkan menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak. Misalnya, saham dapat dijelaskan sebagai kepemilikan kecil dari sebuah usaha yang dapat berkembang.
Dengan penjelasan ini, anak memahami bahwa uang tidak hanya disimpan, tetapi juga dapat dikelola agar nilainya bertambah di masa depan.
4. Memberikan Pemahaman tentang Utang dan Bunga
Anak perlu mengetahui bahwa utang harus digunakan dengan pertimbangan yang matang. Utang tidak selalu berdampak buruk jika dimanfaatkan untuk kebutuhan yang bermanfaat.
Selain itu, konsep bunga juga penting diperkenalkan agar anak memahami bagaimana bunga dapat menambah jumlah utang atau memberikan keuntungan pada tabungan.
5. Memberi Pengalaman Langsung Mengelola Uang
Pembelajaran keuangan akan lebih efektif jika anak terlibat secara langsung. Orang tua dapat memberi kesempatan anak mengatur uang saku atau hadiah yang diterima.
Dari pengalaman tersebut, anak belajar merencanakan pengeluaran, menyisihkan tabungan, dan memahami dampak dari setiap keputusan keuangan.
6. Mengenalkan Pajak dan Asuransi Secara Bertahap
Pajak dapat dijelaskan sebagai bentuk kontribusi masyarakat untuk mendukung fasilitas dan layanan umum. Penjelasan sederhana akan memudahkan anak memahami fungsi pajak.
Sementara itu, asuransi dapat dikenalkan sebagai perlindungan dari risiko tak terduga. Pemahaman ini membantu anak menyadari pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang.
Pendidikan keuangan merupakan bekal penting bagi masa depan anak. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat tumbuh dengan kebiasaan finansial yang sehat dan mampu mengelola keuangan secara bertanggung jawab sepanjang hidupnya.















