Apa Sih Makna di Balik 17+8 Tuntutan Rakyat yang Banyak Digaungkan Influencer?
Gelombang aksi unjuk rasa yang mengguncang Indonesia pada akhir Agustus 2025 menyisakan satu pertanyaan besar di benak publik: apa sebenarnya makna di balik “17+8 Tuntutan Rakyat” yang ramai digaungkan oleh para influencer? Bukan sekadar daftar tuntutan, gerakan ini mencerminkan keresahan kolektif masyarakat sipil terhadap kinerja pemerintahan dan DPR, sekaligus menjadi simbol perlawanan damai yang kreatif di era digital.
Awal Mula Gerakan “17+8 Tuntutan Rakyat”
Gerakan ini pertama kali digaungkan oleh konten kreator Andovi Da Lopez bersama saudara dan rekan-rekannya, termasuk Jovial Da Lopez, Jerome Polin, Salsa Erwin, hingga Ge Pamungkas. Dalam waktu hanya tiga jam, mereka berhasil merumuskan 17 tuntutan mendesak dan 8 tuntutan jangka panjang yang disepakati sebagai aspirasi publik.
Di tengah panasnya situasi politik dan sosial pasca-tewasnya Affan Kurniawan (21), pengemudi ojek online yang menjadi korban dalam aksi 28 Agustus, para influencer turun langsung ke jalan bersama mahasiswa dan organisasi masyarakat sipil untuk menyuarakan daftar tersebut.
17+8 = Simbol Dual Etape Perubahan
Angka 17 mewakili tuntutan jangka pendek, yang diminta untuk dipenuhi paling lambat 5 September 2025. Sementara 8 lainnya merupakan tuntutan jangka panjang yang diberi tenggat waktu hingga 31 Agustus 2026.
Dua set tuntutan ini secara filosofis merepresentasikan:
- Desakan segera terhadap krisis akut seperti kekerasan aparat, kriminalisasi demonstran, dan penyalahgunaan anggaran DPR.
- Upaya reformasi struktural yang lebih luas menyangkut tata kelola DPR, partai politik, militer, hingga sistem ekonomi dan ketenagakerjaan.
Mengapa Influencer Turun Tangan?
Andovi Da Lopez mengatakan langsung:
“Buktinya kita saja bisa bikin tuntutan dalam 3 jam. Kenapa DPR enggak bisa?”
Pernyataan ini viral di media sosial dan mendapat sambutan hangat dari warganet. Banyak yang menganggap bahwa para influencer justru mampu menyuarakan aspirasi rakyat lebih cepat, jernih, dan tegas dibandingkan lembaga legislatif yang terkesan lamban dan tertutup.
Para influencer yang selama ini dikenal hanya lewat layar ponsel, kini menjadi juru bicara rakyat di jalanan. Mereka menggunakan pengaruh mereka untuk menjangkau lebih banyak orang dan mendorong perubahan melalui cara yang kreatif, terorganisir, dan inklusif.
Apa Isi 17 Tuntutan Mendesak?
Beberapa tuntutan penting dalam daftar 17 poin mencakup:
- Pembentukan tim investigasi independen atas kematian Affan Kurniawan dan korban aksi lainnya.
- Penarikan TNI dari pengamanan sipil dan pengembalian fungsi Polri.
- Penghentian kekerasan oleh aparat dan pembebasan demonstran.
- Transparansi anggaran DPR, termasuk gaji dan tunjangan.
- Sanksi untuk anggota DPR yang melecehkan aspirasi rakyat.
- Komitmen nyata terhadap perlindungan buruh, tenaga kesehatan, guru, hingga mitra ojek online.
Isi 8 Tuntutan Jangka Panjang
Tuntutan jangka panjang lebih fokus pada reformasi sistemik, termasuk:
- Pembersihan total DPR dan reformasi partai politik.
- Sahkan RUU Perampasan Aset.
- Reformasi sistem kepolisian dan militer agar lebih humanis dan profesional.
- Tinjauan menyeluruh atas kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan, termasuk UU Cipta Kerja.
Makna yang Lebih Dalam: Simbol Harapan dan Koreksi
Menurut A Bakir Ihsan, Dosen Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah, gerakan “17+8 Tuntutan Rakyat” merupakan cerminan dari:
“Problem akut yang cenderung diabaikan oleh pemilik kuasa, terutama DPR yang semestinya menyambung suara rakyat.”
Lebih dari sekadar daftar, 17+8 adalah:
- Koreksi terbuka terhadap DPR dan institusi negara yang dianggap eksklusif dan jauh dari rakyat.
- Simbol harapan generasi muda, bahwa suara mereka bisa diorganisir dan disuarakan tanpa harus menunggu datangnya perubahan dari atas.
- Model baru advokasi sipil digital, yang menggabungkan kreativitas media sosial dengan aksi nyata di lapangan.
Warna Pink dan Hijau: Strategi Visual yang Efektif
Bukan kebetulan jika warna pink dan hijau mendominasi materi visual tuntutan ini di media sosial. Warna mencolok ini bukan hanya memperkuat daya ingat publik, tapi juga menyimbolkan dua hal penting:
- Pink: empati, solidaritas, dan keberanian bersuara.
- Hijau: harapan, perubahan, dan masa depan yang lebih baik.
- Penutup: Aksi Nyata atau Sekadar Tren?
Hingga artikel ini ditulis, berbagai elemen sipil, mahasiswa, dan warganet terus memantau apakah tuntutan-tuntutan ini akan direspons secara serius oleh DPR dan pemerintah.
Namun satu hal yang pasti: “17+8 Tuntutan Rakyat” telah membuktikan bahwa kekuatan suara masyarakat bisa menjadi tekanan politik yang nyata—apalagi bila didukung oleh kreativitas, strategi komunikasi yang kuat, dan keberanian turun ke jalan.
Sebagaimana dituliskan pada poster aksi di depan DPR:
“Transparansi. Reformasi. Empati.”
Tiga kata kunci yang semestinya tidak hanya menjadi slogan, tapi arah baru demokrasi.















