Cara Menemukan Fenomena dan Gap Riset untuk Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah merupakan pondasi penting dalam setiap penelitian. Tanpa latar belakang yang jelas, penelitian mudah kehilangan arah dan tujuan. Dua elemen kunci yang harus dikuasai adalah fenomena yang terjadi di lapangan dan gap riset yang menunjukkan celah pengetahuan.
Fenomena menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan gap riset menandakan area yang belum banyak diteliti dan bisa menjadi kontribusi baru dari penelitianmu.
Menemukan fenomena dan gap riset bukan sekadar membaca buku atau jurnal, tetapi membutuhkan strategi analisis kritis, kemampuan literasi ilmiah, dan pemahaman konteks sosial, ekonomi, atau teknologi terkait.
Dengan pendekatan yang tepat, mahasiswa atau peneliti muda bisa menyusun latar belakang masalah yang kuat dan memikat pembaca maupun reviewer.
Memahami Fenomena Penelitian
Fenomena penelitian adalah kejadian nyata atau permasalahan yang muncul dalam masyarakat, organisasi, atau bidang tertentu. Sebagai peneliti, kamu perlu mengidentifikasi fenomena yang relevan dan aktual, karena ini akan menjadi dasar pertanyaan penelitian.
Fenomena bisa ditemukan melalui observasi langsung, laporan media, data statistik, hasil survei sebelumnya, maupun tren akademik.
Misalnya, jika kamu tertarik pada pendidikan, fenomena bisa berupa tingginya angka putus sekolah, rendahnya minat baca, atau kesenjangan kualitas guru di wilayah tertentu. Fenomena yang dipilih harus memiliki nilai ilmiah, artinya dapat dianalisis secara akademik, bukan sekadar opini umum.
Memahami fenomena juga melibatkan pertanyaan kritis: mengapa fenomena ini terjadi? Apa dampaknya bagi masyarakat atau institusi? Pertanyaan ini membantu merumuskan fokus penelitian dan membuka jalan menuju identifikasi gap riset.
Mengevaluasi Literatur untuk Menemukan Gap Riset
Gap riset adalah celah pengetahuan yang belum banyak dieksplorasi oleh penelitian sebelumnya. Menemukan gap riset membutuhkan analisis literatur yang sistematis, bukan membaca jurnal secara acak. Proses ini membantu kamu mengetahui apa yang sudah diketahui dan apa yang masih menjadi misteri atau kontroversi.
Langkah pertama adalah meninjau literatur terkini. Carilah artikel, buku, atau laporan penelitian yang relevan dengan fenomena yang kamu pilih. Perhatikan metode, hasil, dan kesimpulan setiap penelitian. Catat kelemahan, keterbatasan, atau pertanyaan yang belum dijawab.
Gap riset biasanya muncul dalam beberapa bentuk: penelitian yang terbatas pada populasi tertentu, metode yang belum optimal, konteks yang belum diuji, atau teori yang perlu dikembangkan lebih lanjut. Menandai area ini akan mempermudah penentuan fokus penelitianmu dan membangun kontribusi ilmiah yang unik.
Strategi Menemukan Fenomena dan Gap Riset
Banyak peneliti pemula merasa sulit menentukan fenomena dan gap riset. Padahal, ada strategi praktis yang bisa diterapkan untuk menemukan keduanya secara sistematis dan efisien.
Strategi ini membantu menghindari kesalahan umum seperti memilih fenomena terlalu umum atau gap riset yang terlalu sempit. Strategi dalam bentuk poin:
- Observasi langsung: Amati lingkungan sekitar, masalah organisasi, atau tren sosial yang relevan.
- Analisis media: Gunakan berita, laporan statistik, atau artikel populer untuk mengidentifikasi isu terkini.
- Studi literatur sistematis: Buat daftar jurnal dan buku yang relevan, catat topik, metode, dan kesimpulannya.
- Bandingkan penelitian terdahulu: Perhatikan perbedaan konteks, populasi, atau metode yang digunakan.
- Identifikasi kelemahan atau keterbatasan penelitian sebelumnya: Ini biasanya menjadi gap riset yang potensial.
- Diskusi dengan pembimbing atau ahli: Mereka bisa memberikan perspektif baru dan menegaskan gap riset yang signifikan.
- Gunakan pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”: Ini membantu menghubungkan fenomena nyata dengan celah penelitian yang perlu dijawab.
Menyusun Latar Belakang Masalah Berdasarkan Fenomena dan Gap Riset
Setelah menemukan fenomena dan gap riset, langkah berikutnya adalah menyusunnya menjadi latar belakang masalah yang koheren. Latar belakang harus menunjukkan relevansi penelitian, urgensi fenomena, dan potensi kontribusi ilmiah dari penelitianmu.
Saat menulis, mulai dengan menjelaskan fenomena secara umum, kemudian fokus pada isu spesifik yang belum banyak diteliti. Tunjukkan bagaimana penelitian sebelumnya mencoba menjawab masalah ini, lalu soroti keterbatasan atau gap yang ada. Akhiri latar belakang dengan pertanyaan penelitian atau tujuan penelitian yang jelas.
Struktur ini membuat pembaca memahami konteks, urgensi, dan nilai tambah penelitianmu. Latar belakang yang kuat juga mempermudah reviewer menilai bahwa penelitianmu layak dilakukan dan memiliki kontribusi nyata.
Tips Agar Fenomena dan Gap Riset Lebih Tepat Sasaran
Menemukan fenomena dan gap riset bukan sekadar tugas administratif. Kualitas latar belakang masalah menentukan arah penelitian dan peluang diterimanya artikel atau proposal penelitian. Berikut beberapa tips untuk meningkatkan ketepatan dan relevansi. Tips dalam bentuk poin:
- Pilih fenomena yang aktual dan memiliki dampak signifikan bagi masyarakat atau bidang studi.
- Jangan terlalu luas atau terlalu sempit; fokus fenomena agar penelitian bisa lebih mendalam.
- Catat setiap kelemahan penelitian terdahulu sebagai potensi gap riset.
- Gunakan sumber literatur terpercaya dan terkini untuk memperkuat argumen.
- Diskusikan ide penelitian dengan pembimbing atau ahli di bidang terkait.
- Hubungkan fenomena dengan teori agar penelitian memiliki dasar konseptual.
- Susun latar belakang dengan alur logis: dari fenomena → gap riset → pertanyaan penelitian.
Kesimpulan
Menemukan fenomena dan gap riset menjadi fondasi penting dalam menyusun latar belakang masalah yang kuat. Fenomena memberikan konteks nyata, sementara gap riset menunjukkan kontribusi yang bisa diberikan penelitian.
Dengan strategi observasi, analisis literatur, dan diskusi dengan ahli, peneliti dapat menyusun latar belakang masalah yang relevan, sistematis, dan menarik bagi pembaca maupun reviewer.
Memahami kedua elemen ini bukan hanya meningkatkan kualitas penelitian, tetapi juga memperkuat kontribusi akademik dan peluang publikasi ilmiah di masa depan.

















