Gabungan Perusahaan Karet Indonesia Sumatera Utara (Gapkindo Sumut) mencatat kinerja ekspor karet asal Sumatera Utara sepanjang tahun 2025 berada di angka 249.379 ton. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan realisasi ekspor tahun sebelumnya yang mencapai 254.376 ton.
Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut, Edy Irwansyah, menyampaikan bahwa capaian tersebut masih jauh dari kondisi ideal ekspor karet Sumatera Utara.
“Capaian tersebut menunjukkan bahwa realisasi ekspor karet Sumatera Utara masih jauh di bawah kondisi normal yang berkisar 500–600 ribu ton per tahun,” ujar Edy Irwansyah dalam dilihat kru medanaktual, Kamis (29/01/2026).
Ia menjelaskan, penurunan volume ekspor terjadi di tengah kondisi pasar karet alam dunia yang masih menghadapi perlambatan permintaan.
“Meskipun rataan harga karet SICOM TSR20 tahun 2025 meningkat menjadi 177,11 sen AS per kilogram lebih tinggi dibanding tahun 2024 sebesar 174,34 sen AS per kilogram,” kata dia.
Menurut Edy, melemahnya permintaan global, terutama dari sektor otomotif dan industri manufaktur, menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kinerja ekspor karet sepanjang tahun 2025.
Selain itu, perlambatan ekonomi di sejumlah negara tujuan ekspor utama turut memberi tekanan, ditambah gangguan cuaca ekstrem di berbagai negara produsen karet seperti Tiongkok, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.
Curah hujan tinggi, banjir, hingga badai lokal menyebabkan terhambatnya aktivitas penyadapan dan pengolahan karet. Faktor lain yang ikut memengaruhi adalah penyesuaian stok di negara tujuan, meningkatnya biaya produksi, serta dinamika kebijakan perdagangan global yang berdampak pada ekspor karet Indonesia secara keseluruhan.
“Faktor lain yang turut menekan kinerja ekspor adalah penyesuaian stok di negara tujuan, tekanan biaya produksi, serta dinamika kebijakan perdagangan global, yang berdampak pada ekspor karet Indonesia secara umum,” kata dia.
Di sisi lain, Edy menilai kenaikan harga karet sepanjang 2025 mencerminkan terjadinya pengetatan pasokan global, sementara produksi karet dunia belum sepenuhnya pulih.
Terkait pasar Eropa, ia menjelaskan bahwa penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mengatur ketertelusuran dan jaminan bebas deforestasi bagi komoditas, termasuk karet, akan mulai diberlakukan pada 30 Desember 2026 bagi perusahaan besar dan menengah. Sementara itu, usaha mikro dan kecil diberikan masa transisi hingga 30 Juni 2027.
“Penundaan penerapan ini memberikan tambahan waktu bagi pelaku usaha karet untuk mempersiapkan sistem kepatuhan, sekaligus mengurangi tekanan jangka pendek terhadap arus ekspor ke Uni Eropa,” sebut dia.
Sepanjang 2025, ekspor karet Sumatera Utara tercatat menjangkau 39 negara dengan lima negara tujuan utama masih mendominasi. Jepang menjadi tujuan terbesar dengan porsi 31,71 persen, disusul Amerika Serikat 18,04 persen, Brasil 10,11 persen, Tiongkok 8,60 persen, dan India 5,80 persen.
Sementara itu, kawasan Eropa tetap menjadi pasar strategis dengan total 19 negara tujuan ekspor. Negara-negara tersebut antara lain Spanyol 19,80 persen, Italia 18,42 persen, Jerman 12,30 persen, Polandia 9,84 persen, Luksemburg 9,17 persen, Rumania 6,25 persen, dan Prancis 6,16 persen.
Selain itu, ekspor juga menjangkau Belgia 6,09 persen, Slovenia 3,32 persen, Bulgaria 2,46 persen, Yunani 1,34 persen, Latvia 1,19 persen, Belanda 1,12 persen, Kroasia 0,75 persen, Finlandia 0,67 persen, Serbia 0,45 persen, Ceko 0,30 persen, Inggris 0,24 persen, serta Rusia 0,14 persen.
“Dalam konteks pasar karet global yang masih menantang, penguatan produktivitas kebun, percepatan peremajaan, peningkatan mutu dan ketertelusuran bahan baku, serta diversifikasi pasar ekspor menjadi langkah strategis guna menjaga keberlanjutan dan daya saing ekspor karet Sumatera Utara ke depannya,” pungkasnya.

















