Fenomena Standar Ganda Pengendara di Jalan Raya
Jakarta, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menyoroti fenomena sikap tidak konsisten masyarakat dalam berlalu lintas. Ia menilai, tanpa disadari, banyak pengguna jalan kerap menerapkan standar ganda saat menilai perilaku orang lain di jalan raya. Prof. Fauzan mencontohkan situasi yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang mengendarai mobil untuk mengantar anak ke sekolah, lalu didahului oleh pengendara motor yang menyalip secara tiba-tiba, reaksi kesal kerap muncul. Pengendara motor tersebut langsung dilabeli ugal-ugalan dan tidak tertib. Namun, pada waktu lain, saat orang yang sama beralih mengendarai sepeda motor, ia justru melakukan hal serupa, menyalip mobil secara tidak tertib tanpa menyadari kontradiksi sikapnya sendiri.
Menurut Prof. Fauzan, kondisi ini menunjukkan lemahnya kesadaran etika berlalu lintas. Saat berada di balik kemudi mobil, seseorang menuntut pengendara motor untuk patuh aturan. Sebaliknya, ketika berada di atas motor, tuntutan itu kerap diabaikan. Sikap tersebut mencerminkan ketidakadilan dalam menilai perilaku pengguna jalan lain dan berpotensi memperburuk budaya berlalu lintas di Indonesia.
Fenomena ini sejalan dengan gagasan yang diangkat dalam buku Etika di Jalan Raya karya Dr. Robie Fanreza. Buku tersebut menekankan bahwa etika berlalu lintas tidak boleh bergantung pada jenis kendaraan yang digunakan, melainkan pada kesadaran moral setiap individu sebagai pengguna jalan. Robie Fanreza mengajak masyarakat untuk menumbuhkan empati dan tanggung jawab bersama demi keselamatan kolektif.
Dalam konteks meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas, buku tersebut dinilai layak dibaca dan dijadikan rujukan oleh masyarakat luas. Pesan yang disampaikan sederhana namun mendasar: keselamatan dan ketertiban di jalan raya adalah tanggung jawab bersama. Tanpa etika dan kesadaran diri, aturan lalu lintas hanya akan menjadi formalitas yang mudah dilanggar.
Dengan demikian, sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Dr. Fauzan, perubahan budaya berlalu lintas harus dimulai dari diri sendiri, adil dalam menilai, konsisten dalam bersikap, dan bertanggung jawab apa pun kendaraan yang digunakan.
















