Medan – Untuk terciptanya prestasi setiap cabang olahraga, pengurus harus benar-benar menjiwai cabang olah raga yang dipimpinnya. Selain itu, mengurus olahraga butuh pengorbanan, bukan tempat mencari makan.
Berbeda dengan pengurus Percasi Sumut. Mereka terkesan cari makan dalam menggelar Musyawarah Propinsi (Musprov) pemilihan Ketua Umum di Aula KONI Sumut, Jalan Pancing Medan, Jumat (22/11).
Bagi calon ketua umum yang mendaftar, panitia membebani Rp 20 juta baru boleh ikut bersaing dalam pemilihan. Alasannya, dana tersebut sebagai partisipasi calon ketua umum. Artinya, calon yang kalah dalam pemilihan uang yang disetor ‘hangus’.
Dan, sampai kemarin ada dua calon daftar yakni, Amran Sinaga dan Juliski. Dengan begitu, panpel udah meraup Rp 40 juta untuk menggelar musprov.
“Itu hasil rapat kami. Ini kebijakan panitia. Dana itu, dana partisipasi”,kata Ketua Panitia Timur Panjaitan, kemarin.
Kebijakan yang dibuat panpel menunjukkan mereka terkesan tanpa modal menggelar Musprov. Bukti, acaranya di gekar di aula KONI Sumut. Dan, kebijakan itu, baru kali ini terjadi dalam dunia olahraga. Padahal, seperti diketahui, Pengprov Percasi Sumut dinakhodai Parlindungan Purba yang merupakan mantan anggota DPD RI.
“Kok, menggelar musprov harus bayar. Ketumnya kan seorang tokoh. Harusnya beliau tanggungjawab. Jangan hanya menggeruk popularitas saja”,kata Kadir Hutauruk, salah satu pecatur kedai kopi di Medan, kemarin.
Dalam membina sebuah cabang, maka setiap pengurus yang terlibat wajib bekerjasama. Sehingga memiliki rasa kebersaman, baik visi dan misinya guna mendongkrak preastasi si atlet.
“Harusnya pengurus gotong royong memikul dana musprov. Jangan cari makan di Percasi Sumut”,ujarnya. (malaon)

















