Dalam upaya menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus mengatasi persoalan lingkungan, eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang selama ini dikenal sebagai gulma air mulai dilirik sebagai solusi inovatif.
Hasil sejumlah penelitian menunjukkan bahwa eceng gondok berpotensi diolah menjadi bioetanol, yakni bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan termasuk dalam kategori energi terbarukan.
Tanaman ini tumbuh sangat cepat di perairan tawar seperti danau dan sungai, sehingga kerap menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari penyumbatan aliran air, kerusakan ekosistem, hingga mengganggu aktivitas masyarakat di sekitarnya.
Di balik dampak negatif tersebut, eceng gondok memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi. Kandungan ini dapat dikonversi menjadi bioetanol melalui proses fermentasi, sehingga membuka peluang pemanfaatan eceng gondok sebagai solusi ganda bagi masalah energi dan lingkungan.
Mengutip laman resmi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Timur, pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan kerajinan memang telah lama dikenal. Namun, tanaman air ini ternyata juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku penghasil energi alternatif.
Untuk mengetahui lebih jauh proses pengolahan eceng gondok, berikut penjelasannya.
· Proses
Proses awal dimulai dengan mengikat potongan eceng gondok dan mengemasnya secara rapi. Eceng gondok kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah itu direbus dan ditiriskan. Tahap berikutnya adalah mencampurkan eceng gondok dengan jamur ketapang sebagai bagian dari proses lanjutan.
· Pengolahan
Dalam pengolahan eceng gondok menjadi briket biomassa, terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan secara berurutan, yaitu:
Eceng gondok dipotong kecil-kecil seukuran ruas jari, kemudian dijemur selama tiga hari hingga benar-benar kering. Apabila cuaca mendung, proses penjemuran dapat berlangsung hingga lima hari.
Setelah kering, cacahan eceng gondok dicampur dengan larutan kanji sebagai bahan perekat dengan perbandingan 80:20. Kanji berfungsi untuk menyatukan partikel eceng gondok dan memadatkannya sebelum dibentuk menjadi briket.
Proses pencampuran dilakukan saat kanji masih dalam bentuk tepung agar tidak menggumpal. Kanji ditaburkan di atas cacahan eceng gondok, lalu ditambahkan air secukupnya.
Campuran tersebut kemudian dibentuk bulat seukuran bola bakso dengan cara diremas menggunakan tangan atau alat pres briket. Setelah terbentuk, briket kembali dikeringkan dengan dijemur selama tiga hari.
Tahap selanjutnya adalah karbonisasi. Proses ini bertujuan membentuk struktur rantai karbon yang lebih panjang pada briket eceng gondok. Semakin panjang rantai karbon, semakin baik kualitas pembakaran yang dihasilkan, sehingga panas lebih optimal dan pembakaran lebih bersih. Pada tahap ini, kaleng pembakaran harus hampir tertutup rapat, namun bagian atas diberi lubang berdiameter sekitar 4 cm agar oksigen tetap dapat masuk dan mendukung proses pembakaran.
Dengan kondisi kaleng yang hampir tertutup, asap hasil pembakaran akan terakumulasi dan meningkatkan kadar karbon pada briket. Setelah proses karbonisasi selesai, briket eceng gondok siap untuk digunakan.
Meski memiliki potensi besar, pemanfaatan eceng gondok sebagai bioetanol masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah optimalisasi proses konversi agar lebih efisien dan ekonomis untuk diterapkan dalam skala produksi massal.
Namun demikian, para ahli optimistis bahwa dengan dukungan pemerintah serta pengembangan teknologi yang berkelanjutan, eceng gondok dapat menjadi salah satu solusi bahan bakar alternatif yang berkelanjutan.
Pemanfaatan eceng gondok sebagai bioetanol memberikan manfaat ganda, yakni mengurangi dampak negatif penyebaran gulma air sekaligus menyediakan sumber energi yang lebih ramah lingkungan di tengah meningkatnya krisis energi.
Dengan perkembangan ini, diharapkan semakin banyak wilayah yang terdampak oleh pertumbuhan eceng gondok dapat mengadopsi teknologi tersebut dan menjadikannya bagian dari solusi energi terbarukan di masa depan.
















